Berita  

Sumedang Bidik Batik Khas Beridentitas, Mahkota Binokasih Disiapkan Jadi Ikon

SUMEDANG – Upaya melahirkan batik yang benar-benar menjadi identitas Kabupaten Sumedang mulai diarahkan lebih serius. Motif Mahkota Binokasih mengemuka sebagai salah satu simbol yang dinilai kuat untuk dikembangkan menjadi ciri khas batik Sumedang.

Gagasan tersebut muncul dalam kegiatan lomba karya membatik (Sumedang membatik) 2026 yang dilaksanakan di Pendopo Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS) yang diikuti oleh peserta umum hingga pelajar. Dimana dalam ajang tersebut sebanyak 51 peserta ambil bagian dalam lomba desain batik yang terbagi dalam kategori umum dan pelajar.

Anggota DPR RI Dapil Sumedang, Majalengka dan Subang (SMS), Galih Dimuntur Kartasasmita, yang menjadi salah satu inisiator kegiatan, mengatakan lomba tersebut tidak berhenti pada pencarian pemenang. Lebih jauh, kegiatan itu ditujukan untuk menemukan karakter batik yang dapat merepresentasikan Sumedang.

“Kalau melihat hasilnya, selisih skor antarpeserta sangat tipis. Artinya, semuanya sebenarnya sudah juara,” kata Galih.

Menurut dia, desain yang dihasilkan para peserta menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan menjadi karya batik khas Sumedang.

Galih mengatakan kegiatan tersebut akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Jika pada sesi pertama peserta berkompetisi membuat desain, tahap selanjutnya akan menguji kemampuan mereka dalam proses membatik secara langsung.

Desain pemenang lomba saat ini nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam lomba membatik.

“Kami sangat berharap dari juara ini bisa berkembang menjadi identitas batik Sumedang yang bisa kita banggakan dan lestarikan bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, karya terbaik nantinya ditargetkan dapat dibawa ke berbagai agenda berskala nasional, termasuk kegiatan Hari Batik Nasional dan kegiatan yang berkaitan dengan Kementerian Perindustrian.

Sementara itu, Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mencari wajah baru batik Sumedang. Terlebih, para pelaku batik dan UMKM di daerah itu tengah berupaya meningkatkan kemampuan produksi sekaligus memperluas pemasaran.

Menurutnya, ada sejumlah hal penting yang terlihat dari karya para peserta. Selain menggali identitas Sumedang, para peserta juga dinilai mampu memadukan unsur tradisi dengan inovasi, termasuk pemanfaatan teknologi digital dalam proses penciptaan desain.

“Setiap motif tadi memiliki cerita. Harus ada makna dan cerita, dan itu sudah tergambarkan dalam karya-karya peserta,” katanya.

Ia juga menaruh perhatian besar terhadap keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, regenerasi menjadi kunci agar batik tetap bertahan dan berkembang di masa mendatang.

“Ketika ada kategori pelajar, berarti generasi muda dilibatkan. Ada regenerasi dan mereka bisa menjaga, melestarikan serta melanjutkan batik ini,” ujarnya.

Selain aspek budaya, pengembangan batik Sumedang juga diarahkan memiliki nilai ekonomi. Karena itu, proses pendampingan tidak akan berhenti setelah lomba selesai.

Peserta nantinya mendapatkan coaching, pelatihan, asistensi dan pembinaan. Karya yang dihasilkan juga diarahkan agar memiliki peluang untuk dipasarkan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi para pengrajin dan pelaku UMKM batik.

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Batik Indonesia Gita Pratama Kartasasmita menekankan pentingnya memperkuat minat generasi muda terhadap dunia membatik.

Menurutnya, pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut perlu terus didorong agar tidak berhenti setelah mengikuti perlombaan.

“Yang pelajar saya ingin sekali mereka makin giat, rajin dan semangat terus membatik. Kita perlu generasi karena batik sudah masuk UNESCO dan regenerasinya juga harus dijaga,” ujarnya.

Ia juga mendorong peserta untuk tidak hanya melihat batik dari sisi seni dan budaya. Kreativitas, kata dia, juga perlu diarahkan pada persoalan lingkungan, termasuk pemanfaatan limbah proses membatik.

Salah satu peserta yang memiliki latar belakang pertanian bahkan didorong untuk memikirkan kemungkinan pemanfaatan limbah batik agar memiliki nilai guna bagi sektor lain.

Bupati Sumedang mengatakan, dari hasil lomba tersebut muncul satu motif yang dinilai memiliki peluang kuat untuk dikembangkan sebagai ikon Sumedang, yakni Mahkota Binokasih.

“Setidaknya kami sudah berembug, ikonnya Mahkota Binokasih. Hampir semua karya juara ada Mahkota Binokasih,” katanya.

Menurutnya, motif tersebut selanjutnya dapat diarahkan untuk memperoleh perlindungan melalui indikasi geografis sehingga memiliki posisi yang semakin kuat sebagai ciri khas Sumedang.

Jika berhasil dikembangkan, identitas tersebut diharapkan dapat diterapkan pada berbagai kebutuhan, mulai dari batik untuk perkantoran, sekolah hingga pakaian kerja.

“Ketika orang luar Sumedang datang dan membeli batik, mereka bisa langsung menebak, ini Sumedang. Saya ingin membangun itu. Jadi top of mind di Indonesia, kalau bicara batik Sumedang, orang langsung mengenal cirinya,” katanya.

Dengan konsep tersebut, pengembangan batik Sumedang diharapkan tidak hanya menghasilkan motif baru, tetapi juga membangun ekosistem dari hulu hingga hilir, mulai dari penciptaan desain, produksi, pembinaan hingga pemasaran.