SUMEDANG – Sejumlah Sekolah Dasar (SD) memanfaatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru dengan menggelar edukasi kesiapsiagaan bencana.
Seperti yang dilakukan oleh MI Raudlatul Muta’allimin Citeureup di Desa Cilayung Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, yang melaksanakan
Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) bagi peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027, dengan membekali para siswa dengan Edukasi Mitigasi Bencana.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam mengenali potensi risiko bencana serta memahami langkah-langkah kesiapsiagaan, penyelamatan diri, can prosedur evakuasi apabila terjadi keadaan darurat dilingkungan sekolah.
Kegiatan MATAMUDA tersebut menghadirkan Relawan Jatinangor Emergency Rescue Respon Community (Jercy)
untuk membekali para siswa baru maupun di semua tingkatan tentang cara menghadapi situasi darurat jika terjadi bencana.
Pada kegiatan itu, para siswa dikenalkan pada berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan sekitar, mulai dari gempa bumi hingga kebakaran. Mereka juga diajak mengikuti simulasi evakuasi dan praktik sederhana agar memahami langkah-langkah penyelamatan diri dengan benar.
Kepala MI Raudlatul Muta’allimin Citeureup, Hassanudin S.Ag menyampaikan, edukasi kesiapsiagaan bencana sengaja dimasukkan dalam rangkaian MATAMUDA karena dinilai penting untuk membentuk karakter siswa yang tanggap dan peduli terhadap keselamatan diri maupun orang lain.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menanamkan kesadaran kepada siswa sejak hari pertama masuk sekolah bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Harapannya, mereka memahami apa yang harus dilakukan jika sewaktu-waktu terjadi bencana, baik di sekolah maupun di rumah,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyampaian materi oleh relawan kebencanaan membuat proses belajar lebih menarik karena disertai simulasi yang mudah dipahami oleh anak-anak usia sekolah dasar.
“Adanya edukasi ini, kami berharap para siswa tidak hanya mengenal lingkungan belajar yang baru, tetapi juga memiliki bekal dasar dalam menghadapi berbagai potensi bencana sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman, tangguh, dan siap siaga,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Relawan Jatinangor Emergency Rescue Respon Community (Jercy) Dedeng Saepurohman mengatakan, pendidikan mitigasi bencana perlu diberikan sejak usia sekolah dasar agar menjadi kebiasaan yang tertanam hingga dewasa.
“Anak-anak merupakan kelompok yang rentan saat terjadi bencana. Karena itu, mereka perlu dikenalkan sejak dini mengenai cara melindungi diri, mengenali jalur evakuasi, serta pentingnya mengikuti arahan guru atau petugas saat keadaan darurat,” kata Dedeng.
Menurutnya, penyampaian materi kepada siswa SD harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan, seperti melalui permainan, cerita, dan simulasi sederhana agar lebih mudah dipahami dan diingat.
“Kami juga berharap para siswa memiliki pengetahuan dasar tentang mitigasi bencana dan mampu menerapkannya apabila menghadapi situasi darurat, sehingga tercipta budaya sadar bencana di lingkungan sekolah sejak dini,” kata Dedeng yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Cilayung Kecamatan Jatinangor ini.





