Banner Iklan bjb
Berita  

Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Dusun Cieurih Sumedang Was-was Sungai Cihonje Meluap Kembali

Ustadz Wawan dan putranya yang tinggal di Dusun Cieurih Blok Tajur RT 02 RW 05 Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan, lokasi terdampak luapan sungai Cihonje.

INISUMEDANG.COM – Warga di Dusun Cieurih Blok Tajur RT 02 RW 05 Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan mengaku masih trauma pascabanjir Sungai Cihonje yang terjadi pada Rabu 4 Maret 2022 lalu.

Pasalnya, banjir yang berdampak terhadap 15 rumah warga di Dusun Cieurih, hingga kini belum ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sumedang.

Ustadz Wawan salah satu korban dan pemilik penggergajian kayu yang tergerus Banjir Sungai Cihonje menyebutkan. Bahwa pascabanjir Sungai Cihonje kedua kalinya, yang berdampak terhadap kurang lebih 15 warga terendam banjir hingga saat ini belum ada perbaikan ataupun perhatian yang diminta warga.

“Iya, sampai saat ini belum ada perbaikan atau penanganan oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang. Sejak banjir pertama, kami meminta bantuan untuk di pasang bronjong. Kalau dipasang bronjong, arus air sungai akan terhalang oleh bronjong tersebut. Secara otomatis kami akan aman ketika hujan besar dan bila ada potensi air sungai Cihonje meluap kembali”. Kata Ustadz Wawan kepada IniSumedang.Com Senin 27 Juni 2022 di lokasi.

Meminta Bronjong

Waktu meminta bantuan banjir yang pertama, kata Wawan, langsung menghadap ke Bupati Sumedang. Hanya meminta segera dipasang Bronjong karena ditakutkan ada banjir yang kedua kalinya, ditambah lagi, ketika dipasang akan bronjong fasilitas batu waktu itu sangat mendukung.

“Ketika kami menghadap ke pa Bupati Sumedang waktu banjir yang pertama agar dipasang Bronjong segera. Karena ditakutkan ada banjir yang kedua kalinya. Katanya sih akan di bantu dan juga kewenangan dari Sungai Cihonje itu oleh BBWS jadi akan di sampaikan, begitu kira kira ngomongnya,” ujar Wawan.

Namun, kata Wawan, Allah SWT berkehendak lain, pada hari Rabu tanggal 4 Mei 2022 kemarin. Kembali 15 rumah warga menjadi korban banjir Sungai Cihonje dan lebih parah dari banjir yang pertama. Sampai dua kendaraan roda empat ikut tergerus air sungai, belum lagi fasilitas rumah habis semua.

“Saya juga, memiliki tempat penggergajian kayu, habis semua karena tergerus air sungai yang sangat deras sekali. Putra saya juga tinggal di sini, bersebelahan dengan tempat penggergajian mengalami trauma yang luar biasa. Apalagi saya di usia yang sudah mulai uzur ini, sangat trauma ketika hujan deras air sungai sudah mulai meluap, kami terpaksa siap siap berkemas,” tutur Wawan.

Belum beberapa lama ini, lanjut Wawan, ada dari BBWS mengukur ngukur kondisi di tempat kejadian, entah apa yang di ukurnya. Sementara, kehidupan 15 warga ini di hantui rasa was was, hidup tidak tenang selama belum ada penanganan dari pihak pemerintah.

“Apa tidak bisa menggunakan anggaran gawat darurat? Anak saya sampai mengungsi 3 minggu mengosongkan rumahnya pasca banjir yang kedua kalinya, masih saja belum ada penanganan secara serius. Mau sampai kapan hal ini dibiarkan, jujur saja sekali lagi saya katakan warga merasa dihantui ketika hujan deras dan air sungai Cihonje meluap, hanya karena ingin meminta bantuan Bronjong bukan sembako,” kata Wawan menegaskan.