Berita  

Konsumsi Listrik di Jabar Tumbuh 6,28 Persen, Sumedang Tertinggi Ketiga

SUMEDANG – Kabupaten Sumedang mencatat pertumbuhan penjualan tenaga listrik sebesar 8,59 persen hingga September 2026. Angka tersebut menempatkan Sumedang di posisi ketiga sebagai wilayah dengan pertumbuhan penjualan listrik tertinggi di Jawa Barat, setelah Karawang dan Indramayu.

Data PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat menunjukkan, pertumbuhan penjualan listrik di Karawang mencapai 10,30 persen, disusul Indramayu sebesar 9,22 persen. Sementara Sumedang membukukan pertumbuhan 8,59 persen, mencerminkan meningkatnya kebutuhan energi listrik di wilayah tersebut.

Secara keseluruhan, penjualan tenaga listrik di Jawa Barat selama Januari-September 2026 mencapai 50,04 terawatt hour (TWh). Jumlah itu meningkat 6,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 47,08 TWh.

Pertumbuhan konsumsi listrik tersebut terutama ditopang sektor bisnis dan industri. Penjualan listrik sektor bisnis naik 9,6 persen, dari 7,62 TWh menjadi 8,35 TWh. Adapun sektor industri tumbuh 7,17 persen, dari 19,22 TWh menjadi 20,60 TWh.

Sementara itu, konsumsi listrik rumah tangga meningkat 4,06 persen, dari 17,59 TWh menjadi 18,31 TWh. Ketiga sektor tersebut menyumbang 94,44 persen dari total penjualan listrik di Jawa Barat.

General Manager PLN UID Jawa Barat Muhammad Joharifin mengatakan, peningkatan konsumsi listrik dapat menjadi salah satu indikator berkembangnya aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha.

“Pertumbuhan konsumsi listrik ini menjadi salah satu cerminan bergeraknya aktivitas ekonomi di Jawa Barat. Bagi PLN, hal ini bukan sekadar peningkatan penjualan energi, tetapi juga menunjukkan semakin besarnya kebutuhan dunia usaha dan masyarakat terhadap pasokan listrik yang andal,” ujar Joharifin.

Pada kelompok pelanggan bisnis berskala besar, konsumsi listrik hingga September 2026 mencapai 3.651 gigawatt hour (GWh). Angka tersebut bertambah 253 GWh atau tumbuh 7,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sektor industri juga mencatat peningkatan konsumsi listrik sebesar 7,09 persen secara tahunan, dengan total penggunaan mencapai 19.388 GWh pada kelompok pelanggan yang dicatat PLN. Tambahan konsumsi terbesar berasal dari industri kertas sebesar 249,62 GWh, disusul industri besi, baja, dan logam sebesar 237,82 GWh serta industri makanan dan minuman sebesar 187,97 GWh.

Meningkatnya kebutuhan listrik di berbagai wilayah menjadi tantangan bagi PLN untuk menjaga keandalan pasokan. Perusahaan tersebut terus melakukan pemeliharaan jaringan, meningkatkan kapasitas infrastruktur, serta mengoptimalkan pengelolaan sistem distribusi guna mengimbangi pertumbuhan kebutuhan energi.

Joharifin menegaskan, kesiapan infrastruktur dan kualitas pelayanan menjadi bagian penting dalam mendukung kegiatan masyarakat serta menjaga produktivitas dunia usaha.

“Setiap peningkatan kebutuhan listrik adalah tanggung jawab yang harus kami jawab dengan kesiapan dan pelayanan terbaik. Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Barat selalu didukung oleh energi listrik yang andal dan berkelanjutan,” katanya.