Soal Dugaan Aliran Menyimpang di Bangbayang, Ini Penjelasan Mantan Pengikutnya

  • Bagikan
mantan pengikut aliran menyimpang
Umar, Kepala Desa Bangbayang Sitiraja, Sumedang

INISUMEDANG.COM – Soal adanya dugaan aliran dzikir menyimpang di Desa Bangbayang Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang, membuat warga sekitar resah.

Keresahan itu, karena paham ajaran agama Islam yang diterapkan di sebuah yayasan kelompok zikir yang dikenal Merdeka Hakikat Keadilan, yang sebelumnya bernama Yayasan Nailul Author 101.

Kepala Desa Bangbayang yang juga sempat menjadi pengikutnya menjelaskan, Desa Bangbayang merupakan desa yang kaya akan alamnya, asri, terletak di pegunungan yang masih terjaga kelestarian lingkungannya. Dengan masyarakat yang hidup damai, kesibukan warganya pun mayoritas bertani dan berkebun.

Namun hal tersebut, harus terusik dengan adanya komunitas yang berkedok dzikir berasal dari luar Sumedang, yang meminta izin kepada Pemerintahan Desa Bangbayang untuk tempat berdzikir.

“Singkat cerita, karena melihat hal kerohanian lalu diberikan lah izin dengan berbagai syarat. Salah satunya apabila menyimpang dari ajaran maka akan ditutup, dan keputusan izin itu berdasarkan musyawarah dengan tokoh dan kepala dusun,” kata Umar saat ditemui di Kediamannya, Sabtu (6/11/2021).

Selanjutnya, lanjut Umar, fasilitas tanah kas desa seluas 500 bata pun digunakan untuk dibangun tempat dzikir itu untuk komunitasnya.

Setelah berjalan, kata Umar, warga Bangbayang awalnya tidak menjadi pengikutnya dikarenakan berbagai alasan, salah satunya dzikir dilaksanakan pada malam hari sementara esok hari warga harus beraktivitas.

“Warga mulai mengikuti pengajiannya setelah komunitas tersebut yang bernama Yayasan Nailul Author 101 itu terus berusaha meraih simpati warga. Salah satunya pada dengan kegiatan kurban pada tahun 2016 bersama sama dengan warga,”

“Sejak itulah, warga rajin mengikuti pengajian, dan yang hadirnya pun tidak hanya warga Bangbayang melainkan banyak dari luar Sumedang dengan juru penceramahnya Kyai Ridwan,” ungkap Umar.

Semua berjalan baik, sambung Umar, warga jadi sering mengikuti pengajian dari yayasan tersebut. Namun, setelah kurang lebih dua tahun, Kyai Ridwan di alih tugaskan oleh pihak Yayasan untuk mengurus Yayasan Nailul Autor yang Pimpin Mursid Hamim Kafaya. Dan posisi Kyai Ridwan diganti oleh Ismail Siregar.

“Disini mulai lah babak baru dimulai, kyai Ridwan disingkirkan dan akhirnya dikeluarkan dengan berbagai alasan.
Dan setelah kyai Ridwan dikeluarkan mulailah ada kejanggalan-kejanggalan karena didalam dzikir itu ada mistis-mistisnya, seperti tongkat bertuah. Waktu itu saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya ada didalamnya,” ujar Umar.

Seiring berjalannya waktu, Umar menuturkan, dirinya pernah dengan BPD datang ke Jakarta langsung dimarkasnya. Dan ternyata di markasnya tidak ada Plang Yayasan selayaknya Yayasan pada umumnya, melainkan hanya rumah biasa saja.

“Alhasil, saya mengikuti terus, karena ingin tahu sejauh mana, yang mana disebut katanya Riyadoh gunung, daratan dan lautan,” tutur Umar.

Selanjutnya, terkait riyadoh ke gunung Padang, dan sampai ke kepulauan seribu. Kemudian setelah itu melaksanakan tirakat 41 hari puasa dengan buka puasanya makan yang tidak bernyawa setelah itu nyeupen. Umar mengaku selama dirinya menjadi anggotaannya merasa dzikirnya baik-baik saja begitupun dengan tirakatnya.

Mulai ada penyimpangan adanya praktek perdukunan, kata Umar, yaitu sejak adanya benda yang dinilai bertuah, atau torekat yang sudah diluar jalur dan menurut persepsi mereka itu benar.

“Seiring berjalannya waktu. Saya mendengar bahwa ada istrinya Jamaah tidak ikut dzikir harus diceraikan. Dan itu sudah ada korbannya. Yang paling mencuat bahwa perkawinan harus jemaah ke jemaah yang lainnya atau yang seihwan. Bahkan saudara saya pun jadi korban. Selain itu, pihak majelis atau yayasan pun pernah meminta putri saya yang sedang kuliah untuk dinikahkan. Dengan alasan katanya berdasarkan petunjuk. Namun, jelas saya menolaknya,” ucap Umar.

Masih kata Umar, di dalam ajaran majelis itu, Desa Bangbayang ini menjadi mercusuar dunia, sama halnya dengan di Mekkah tempat sucinya di Ka’bah dan Madinah. Sedangkan di Indonesia ini hanya dua tempat suci, yaitu di Kadawung dan Bangbayang. Sehingga, di majelis itu ada tempat tawaf dan ada hajar Aswad buatan. Dan tidak sampai disitu, rencananya Ka’bah pun akan dibuatkan. Hanya saja rencana itu tidak terjadi karena tempat tersebut keburu ditutup.

“Melihat gelagat tersebut jelas ada penyimpangan. Maka saya keluar dari majelis itu dan langsung berkordinasi dengan pihak kecamatan dan aparat yang lainnya untuk berkordinasi. Bahkan saya pun sudah berkordinasi dengan pihak MUI Sumedang, rencananya hari ini mau ke Bangbayang, namun diundur, dan rencananya hari Senin atau Selasa (8-9/11/2021) MUI akan terjun langsung ke lapangan,” kata Umar mengakhiri pembicaraan.

  • Bagikan