Banner Iklan bjb

Soroti Kasus 2 Bobotoh Tewas di GBLA, Ketua PKB Jabar: Harus Diusut Tuntas

Ketua PKB Jawa Barat Syaiful Huda

BANDUNG – Ketua PKB Jawa Barat Syaiful Huda ikut menyoroti kasus tewas 2 bobotoh di stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib Bandung vs Persebaya Surabaya, Jumat 17 Juni 2022, lalu

Lebih lanjut, Syaiful Huda menilai kasus tewas suporter sepak bola di Indonesia seperti yang menimpa bobotoh Persib Bandung dalam babak penyisihan Piala Presiden 2022 sudah tak bisa ditoleransi.

“Tidak ada sepak bola seharga nyawa manusia. Kami mendesak agar pihak yang bertanggung jawab secara langsung atau tidak langsung atas kematian dua bobotoh di GBLA diseret ke ranah hukum,” katanya.

Ketua Komisi X DPR RI itu juga menegaskan kasus bobotoh tewas ini bisa diusut tuntas dan pihak-pihak yang terlibat harus tanggung jawab atas perbuatannya secara pidana. Dirinya pun mendesak aparat berwajib bergerak cepat.

“Dalam kasus dua bobotoh tersebut, pihak berwajib harus memanggil para penanggung jawab pergelaran Piala Presiden 2022. Kami di DPR mendapat banyak laporan dari suporter terkait peristiwa tersebut,” tuturnya.

“Mereka (penanggung jawab Piala Presiden 2022) harus dimintai keterangan dan jika ada unsur kelalaian yang memicu tewasnya dua bobotoh mereka harus dijerat dengan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang picu hilangnya nyawa orang lain,” sambungnya.

Kejadian Kasus Boboth Tewas Diduga Unsur Kelalaian Penyelenggara

Syaiful Huda menilai, kejadian tersebut diduga terjadi karena ada unsur kelalaian penyelenggara. Sehingga tampak tidak ada persiapan matang mengantisipasi ledakan jumlah penonton dalam laga akbar tersebut.

“Kami menerima informasi terkait bobolnya stadion sejak sebelum pertandingan dimulai. Lalu ada ketidaksigapan Panpel saat terjadi kerumunan begitu rupa sehingga picu korban jiwa,” ucap Ketua PKB Jabar itu.

Huda menilai bahwa kasus suporter yang meninggal selama ini cenderung dianggap sebagai kecelakaan tanpa diusut apa pemicunya. Sehingga sudah saatnya jeratan pasal pidana diberikan kepada yang lalai.

“Peristiwa kematian suporter sepak bola di Indonesia seperti lagu lama yang terus berulang. Di sisi lain, belum nampak upaya serius membenahi pengelolaan sepak bola termasuk melindungi suporter,” tegas Huda.

Data Save Our Soccer (SOS) menunjukkan,l terdapat 76 suporter meninggal selama periode 1995 hingga 2018 karena berbagai sebab. Mulai dari terhimpit, terjatuh di stadion, kecelakaan di jalan, hingga dikeroyok warga dan suporter lawan.

Saat ini, lanjut Huda, dalam UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang keolahragaan sudah terdapat pasal terkait perlindungan suporter. Tapi beleid tersebut masih membutuhkan aturan turunan agar dapat diterapkan.

“Kami harap pemerintah merumuskan aturan turunan ini untuk memastikan keselamatan suporter baik sebelum, saat, dan sesudah pertandingan. Tidak ada olahraga seharga nyawa, termasuk sepak bola,” ungkapnya.