Perokok, Siap-siap Rogoh Kocek Lebih Dalam, Januari 2022 Harga Rokok Naik Lagi

  • Bagikan
Harga Rokok Naik

INISUMEDANG.COM – Mulai Januari 2022 Harga rokok naik, baik kretek maupun filter. Kenaikan terjadi lantaran adanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau, per 1 Januari 2022.

Tak hanya naik, ada rokok pendatang baru mulai langka di pasaran. Jika pun ada, harganya naik menjadi Rp29.000 dari harga awal Rp27.500. Tak hanya harga rokok pendatang baru, rokok keluaran lama pun ikut naik.

Pantauan INISUMEDANG.COM di lapangan, kenaikan harga rokok mulai dari tingkat agen hingga pedagang eceran.

Jika dirata-rata kenaikan pajak tembakau tersebut mencapai 12%, atau menjadi yang tertinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari Sigaret Kretek Tangan yang pada tahun sebelumnya tidak naik, hingga Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang mengalami kenaikan paling tinggi.

Dari penjual agen, harga rokok per bal nya sudah mengalami kenaikan sejak Minggu lalu. kenaikan tertinggi dialami oleh jenis rokok Sigaret Kretek Mesim (SKM).

Salah satu pemilik kios rokok di Tanjungsari, Ridwan mengatakan kenaikan jenis rokok tersebut per satu balnya rata-rata mencapai Rp100.000 hingga Rp150.000.

“Semisal rokok Sampoerna Mild 10 slop, sebelumnya harganya Rp2,3 juta, sekarang itu kalau kita belanja Rp2,4 juta. Kalau filter naiknya Rp100 ribu per bal, sama seperti Surya 12 juga sama kenaikan Rp100 sampai 150 ribu,” ujarnya.

Sementara itu, Windi Ruswandi, staf UPTD Agrobisnis Tembakau Kab Sumedang membenarkan jika saat ini harga cukai tembakau naik. Tak hanya tembakau pabrikan, rokok jenis tembakau mole pun mengalami kenaikan berkisar antara 5 persen.

“Harga cukai tembakau naik, artinya semua rokok atau tembakau yang ada cukai tembakaunya pasti naik antara Rp1000 sampai Rp2000 per bungkus/ kemasan. Itu pun berlaku ke harga tembakau olahan petani yang memakai pita cukai,” ujarnya.

Meskipun demikian, penjualan tembakau tengah mengalami penurunan yang sangat signifikan. Termasuk kegiatan kedinasan UPTD Agrobisnis Tembakau Dibawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang Terkait pembinaan, pelatihan, dan penyuluhan ke Petani berkurang akibat pandemi.

  • Bagikan