Kisah Mistik Jembatan Cincin Jatinangor Sumedang, Dari Suara Tangisan, Sampai Wanita Terjun ke Jurang

  • Bagikan
Kisah Mistik Jembatan Cincin
ILUSTRASI: Jembatan Cincin bekas perlintasan Kereta api milik Belanda masih berdiri kokoh di Dusun Neglasari Desa Hegarmanah Kecamatan Jatinangor.

INISUMEDANG.COM Siapa yang tak kenal Jatinangor, sejak dialihfungsikan dari kawasan perkebunan menjadi kawasan pendidikan. Nama Jatinangor semakin populer di masyarakat nusantara.

Bahkan pada tahun 2015 silam, Pemprov Jabar telah menetapkan Jatinangor sebagai kota metropolitan kawasan pendidikan tinggi. Namun, siapa sangka ditengah hingar bingar lampu apartemen dan gedung bertingkat, ternyata ada kisah mistik yang menarik untuk dikaji.

Salah satu lokasi yang terkenal dengan kisah mistik adalah Jembatan Cincin. Jembatan ini terletak di Dusun Cisaladah Desa Hegarmanah Kecamatan Jatinangor.

Awal mulanya, jembatan cincin ini digunakan untuk transportasi hasil perkebunan Karet dan Teh dari kawasan perkebunan Tanjungsari, Jatinangor ke Rancaekek. Tepatnya pada tahun 1916 jalur rel kereta api yang menghubungkan Rancaekek Tanjungsari dalam program proyek rel kereta api Rancaekek-Tanjungsari-Citali sepanjang 15 km.

Sesuai Koninklijke Besluit (Peraturan Negara) tanggal 4 Januari 1916 serta Lembaran Negara Nomor 36. Awalnya hanya akan dibangun rel kereta api Rancaekek-Jatinangor saja sepanjang 5,25 km untuk keperluan mengangkut hasil perkebunan Jatinangor saja.

Atas permintaan pihak militer rel kereta api itu agar digunakan untuk keperluan angkutan umum juga, maka diperpanjanglah jalur rel tersebut hingga ke Tanjungsari dan Citali sepanjang 11,5 km. Tetapi kemudian rel kereta api hingga Citali ditangguhkan karena kekurangan biaya dan peralatan untuk menembus alam di sana sehingga rel kereta api itu hanya sampai Stasiun Tanjungsari.

Awal Mula Pembangunan Jembatan Cincin

Kemudian, pada tahun 1918, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf, sebuah perusahaan kereta api milik Belanda membangun sebuah jembatan rel kereta penghubung Rancaekek-Tanjungsari yang disebut sebagai Jembatan Cikuda atau yang lebih dikenal sebagai Jembatan Cincin.

Jembatan ini dilewati oleh kereta api yang menunjang lancarnya perkebunan karet dan transportasi masyarakat.

Karena begitu kerasnya sistem kerja rodi yang diterapkan oleh penjajah di jalur kereta tersebut, korban jiwa pun berjatuhan. Jembatan yang memiliki 11 tiang dan 10 lekukan seperti setengah cincin. Itu pun disebut-sebut banyak menyimpan kisah mistis hingga saat ini.

Menurut masyarakat sekitar di masa kerja rodi, banyak pekerja yang tidak diperhatikan keselamatannya. Jembatan Cincin ini diketahui tidak memiliki tempat untuk menepi saat kereta lewat. Sehingga beberapa pekerja harus melompat ke bawah dan meninggal dunia.

Pengkuan Warga tentang Kisah Mistik Jembatan Cincin

Dalam beberapa kesempatan, warga mengaku sering mendengar suara perempuan dan anak kecil menangis di malam hari. “Katanya pernah ada yang melihat wanita yang berjalan di jembatan itu, tapi wanita itu malah melompat ke bawah dan orang yang melihat langsung lari ketakutan”. Kata Irwan seorang warga Desa Hegarmanah.

Menurut Irwan, bukan tanpa alasan karena tempat tersebut sejarahnya memang banyak korban jiwa ketika proses pembangunan. Lokasinya yang berada diantara lembah dan jurang, juga ada mata air (Sirah Cai) membuat mahluk saklar betah tinggal di sana. Bahkan hingga kini masih ada cerita cerita mistik dari mulut ke mulut.

Irwan menambahkan, karena bangunan masih kokoh, jembatan cincin pun dipakai sebagai akses penghubung dari Dusun Cisaladah RT 05 RW 07 ke Dusun Neglasari RT 01 RW 11. Bahkan tak hanya masyarakat, mahasiswa yang nge kos di daerah Neglasari (Cikuda) pun kerap melewati ke sana.

Tak hanya cerita cerita zaman dulu, keangkeran jembatan Cincin itu diperkuat dengan adanya pemakaman umum warga RW 11, RW 07 dan RW 01 tepat dibawah jembatan.

“Tapi itu cerita zaman dulu, sebagai manusia, kita wajib percaya ke yang ghaib, tapi tidak perlu takut atau parno. Keangkeran jembatan Cincin ternyata menyimpan sejarah, nilai eksotis, budaya, dan peninggalan bukti adanya penjajahan di Indonesia,” tutup pria yang juga menjabat sebagai staf Desa Hegarmanah itu.

  • Bagikan