Kisah Letda Lukito, Pahlawan Nasional yang Namanya Dijadikan Jalan di Jatiroke Sumedang

Letda Lukito
FOTO Letda Lukito masih terpampang di Kantor Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor.

INISUMEDANG.COM – Tidak banyak yang mengenal sejarah atau kisah hidup Letnan Dua (Letda) Lukito, salah satu Pahlawan Nasional era kolonial Belanda ini, sekira tahun 1809 memiliki kisah menarik untuk ditelusuri. Dan menjadi cikal bakal berdirinya Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang.

Perjalanan kisahnya menjadi Pahlawan Nasional mempertahankan NKRI dari rongrongan Belanda, dibuktikan dengan cerita cerita warga Jatiroke Kecamatan Jatinangor.

Bagaimana Letda Lukito bisa menyelamatkan warga hingga terbebas dari sabetan benda tajam, dan bom atom milik Belanda.

Saking sayangnya kepada warga Jatiroke (mencakup Jatimukti, Cisempur, Sawahdadap, sampai Sindulang), Letda Lukito rela lama lama menetap di Jatiroke tepatnya RW 03 Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor.

Bahkan, dia mengadopsi anak warga lokal untuk menjadi anak angkatnya sampai dewasa dan memiliki rumah tangga.

Kisah perjuangan Letda Lukito terhadap penjajah, dikisahkan ketua RW 02, Cucu Supriatna yang mengatakan bahwa untuk menghindari penjajah dan bom atom Belanda, warga diungsikan ke Bukit Jarian yang berada di kaki Gunung Geulis.

Konon, warga yang sembunyi di Bukit Jarian bisa terhindar dari Bom Atom, bahkan Bom atom itu mental kembali. Sehingga, banyak warga yang kemudian menetap di Bukit Jarian, Pasir Tipis, Pasir Panjang dan daerah sekitar Kaki Gunung Geulis Desa Jatiroke.

“Ya Letda Lukito memang pejuang namun tidak banyak yang mengenal. Tapi warga sini pada mengenal beliau hingga namanya diabadikan menjadi nama Jalan Letda Lukito yang membentang dari Cikuda sampai Cisempur. Bahkan pak Lukito mengadopsi anak warga sekitar bernama Ruhiyat,” ujarnya.

Tempat Tinggal Letda Lukito Sudah Hancur dan Menjadi Pemukiman

Sayangnya, lanjut Cucu, rumah tempat tinggal Letda Lukito sudah hancur dan menjadi pemukiman penduduk.

Namun, nama jalannya ada sampai sekarang. Bahkan, fotonya terpampang di kantor Desa Jatiroke sebagai saksi bisu dan mengenang jasa beliau.

Seperti diketahui, nama Jatiroke berasal dari nama Jati dan roke. Jati berarti pohon jati dan roke adalah dahan yang kuat.

Jadi Jatiroke adalah pohon jati yang berdahan kuat. Pemimpin dan pendiri desa ini adalah Raden Kimas Arep yang berkuasa pada tahun 1822. Wilayah Desa Jatiroke banyak ditumbuhi pohon Jati meliputi batas Sungi Citarik, Tanjungsari sampai Sindulang.

Setelah habis masa kepemimpinan Raden Kimas Arep, beliau mencari penggantinya. Namun tidak ditemukan. Maka beliau mengangkat Mad Hapi yang menjadi juru tulis Jelekong tahun 1830.

Mad hapi pencetus pembagian wilayah Jatiroke. Menjadi Jatiroke, Cimanggung, Cileles dan Cisempur. Mad Hapi adik kandung dari Raden Kimas Arep, meneruskan kepemimpinan di desa Jatiroke dengan jabatan lurah.

Pemekaran jatiroke menjadi Cimanggung, Cileles dan Cisempur. Pusat pemerintahan Lurah Mad Hapi berawal dibalai Desa Jatiroke hingga sekarang, yang merupakan tanah kas desa. Jalan desa awalnya hanya setapak berubah menjadi jalan desa meliputi dari Jatiroke hingga Cisempur Batas Kecamatan Cimanggung.

Pada masa itu mata pencarian penduduk asli adalah bertani. Tahun 1892 perpindahan penduduk (migrasi) orang Galunggung Garut dan Ujung Jaya Sumedang ke wilayah Jatiroke, membawa pengetahuan dan keterampilan menanam tembakau. Sejak itu penduduk Jatiroke menjadi petani tembakau disamping menjadi petani padi.

Tembakau banyak ditanam di bekas hutan jati. Keberadaan pohon Jati sedikit demi sedikit berkurang/ditebang untuk kebutuhan rumah dan dijual ke luar Jatiroke. Tahun 1984 Desa Jatiroke dipecah menjadi Desa Jatimukti dimulai dengan kepala Desa Jatimukti pertama Een Rohendi.