Banner Iklan bjb

Harga Jual Tembakau di Sumedang Murah, Petani Mengeluh

INISUMEDANG.COM – Nanang (50) petani tembakau yang menjalani usahanya selama kurang lebih 20 tahun. Warga Dusun Lebak Peutag Desa Pasigaran Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang mengeluhkan perihal harga jual tembakau yang sangat murah sejak awal PPKM (Penerapan pembatasan kegiatan masyarakat).

Tidak hanya nanang yang mengalami kerugian, petani tembakau yang lainnya pun sama mengalami kerugian. Sehingga mau tidak mau mereka tetap menjalankan usahanya yang bisa dibilang turun temurun.

“Saya kurang lebih 20 tahun menjalankan usaha tembakau ini secara turun temurun. Namun, sangat prihatin terhadap petani dan pengrajin tembakau yang lainnya termasuk saya juga. Harga tembakau sekarang sangat anjlok, tapi mau tidak mau kami terus menjalankan usaha kami”. Ungkap Nanang kepada IniSumedang.Com, Senin 20 Juni 2022

Nanang menuturkan, selama kurang lebih 3 tahun harga tembakau yang sudah jadi atau sudah kering, masih dibawah harga biasanya. Belum ada kenaikan dan tidak tahu alasannya. Padahal mengolah tembakau itu sangatlah susah dan lama apalagi jika dihitung saat mulai menanam.

Harga Jual Tembakau Yang Murah

Selain harga yang murah, sambung Nanang, sekarang menanam dan mengolah tembakau pun sangatlah susah karna faktor cuaca yang tidak menentu.

“Jadi selain harganya yang murah, kendala lainnya adalah cuaca yang tidak menentu. Seharusnya 2 minggu kering sekarang bisa sampai 1 bulan, jika dihitung dari mulai menanam sampai menjual sekitar 8 bulan, dan itupun sekarang harganya sangat murah,” keluhnya.

Lebih lanjut Nanang mengatakan,
sekarang sudah jarang sekali bandar datang ke para petani tembakau karna harganya sedang murah.

“Walaupun harga tembakau murah tetapi tetap saja kita harus membeli pupuk. Jadi kadang penghasilan yang tidak jelas seperti kita menanam tembakau dengan modal 1,5 juta tapi keuntungan kita cuma 2 jutaan itupun dalam jangka waktu yang sangat lama” ucapnya.

Sehingga, tambah Nanang, harga sekarang tidak sebanding dengan modal yang di keluarkan. Adapun tembakau yang sudah kering dan jadi itu hanya dibeli oleh bandar senilai Rp200.000 ribu/ikat dalam satu ikat itu sebanyak 20 lempeng, tidak seperti sebelum PPKM.

“Saya berharap harga tembakau bisa normal kembali seperti sebelum PPKM, karena sekarang kan sudah tidak PPKM lagi. Kami sudah lama mengalami kesusahan karena harga tembakau sangat murah, selama kurang lebih 3 tahun kami menjual murah. Kami juga berharap semoga harga pupuk bisa turun kembali agar bisa sebanding dengan hasil yang kami dapatkan dari menjual tembakau” kata Nanang menandaskan.