Gegara Pandemi, Aktivitas Pasar Tembakau Tanjungsari Sumedang Sepi Pembeli

  • Bagikan
pengusaha tembakau
Staf UPTD Agrobisnis Tembakau Kab Sumedang, Windi (kiri) bersama pedagang tembakau di pasar tembakau Tanjungsari. Poto : Iman Nurman

INISUMEDANG.COM,- Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada perekonomian masyarakat dari segi bisnis, pengusaha tembakau yang bukan makanan pokok pun kena imbasnya. Dimana sejak tahun 2019 atau 2 tahun selama pandemi, para pengusaha, petani, dan pedagang tembakau di pasar tembakau Tanjungsari Sepi order.

Padahal, biaya cukai tembakau saat ini melambung tinggi berkaitan dengan dinaikkannya cukai tembakau oleh pemerintah. Namun, tak dirasakan petani dan pedagang tembakau di Tanjungsari.

Feri Irawan misalnya, pemilik Toko Tembakau Barokah di pasar bako Tanjungsari mengaku sepi order sejak 2 tahun silam. Adanya kebijakan PPKM di tiap daerah dan menurunnya daya beli masyarakat menurun penyebab utamanya omzet penjualan tembakau menurun.

“Aktivitas niaga di pasar tembakau Tanjungsari setiap selasa dan sabtu, meskipun sebagian ada yang tetap buka di hari hari biasa. Paling melayani pembeli sekitaran Sumedang dan Tanjungsari saja. Itu juga pembelian untuk konsumsi bukan dijual lagi, artinya skala kecil saja,” ujarnya.

Feri menambahkan, di pasar bako Tanjungsari, memang aktivitas pedagang agak sedikit berkurang jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelum Covid. Untuk menyiasati penjualan bako agar tetap stabil, pihaknya menjual dengan sistem online yang dipasarkan melalui media sosial.

“Pasar khusus tembakau hanya ada satu di Sumedang bahkan se Indonesia. Pembeli dari berbagai daerah di Jabar bahkan ada yang berasal dari luar Jawa, seperti kalimantan, Sumatera, dan Bali. Namun, gegara pandemi jadi berkurang,” ujarnya.

Menurutnya, tembakau yang paling banyak dicari jenis tembakau Darmawangi yang ditanam di daerah Darmaraja, Tomo, dan Wado. Pangsa pasarnya orang tua. Sedangkan kaula muda paling banyak mencari jenis bako flavour aromatik.

“Harga per bungkus untuk tembakau flavour antara 23 sampai Rp25 ribu. Kalau harga bako mole original antara Rp10 sampai Rp20 ribu dijual per kemasan. Kalau lempengan antara Rp35 sampai 85 ribu rupiah,” ujarnya.

Sementara itu, Windi Ruswandi, staf UPTD Agrobisnis Tembakau Kab Sumedang membenarkan jika penjualan tembakau tengah mengalami penurunan yang sangat signifikan. Termasuk kegiatan kedinasan UPTD Agrobisnis Tembakau Dibawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang Terkait pembinaan, pelatihan, dan penyuluhan ke Petani berkurang akibat pandemi.

Kegiatan penyuluhan pun, kata dia, hanya sebatas kegiatan online atau Webbinar yang tidak ada anggarannya.

“Memang secara kedinasan, seperti acara pembinaan, penyuluhan, dan pengawasan selama 2 tahun terakhir sejak pandemi berkurang. Bantuan untuk petani tembakau juga tidak ada karena DBHCT tidak ada anggaran, karena di recofusing untuk penanganan Covid 19,” paparnya.

Di Sumedang sendiri ada 266 Kelompok Tani, dibawah pembinaan Abti (Asosiasasi Petani Tembakau Indonesia) DPC Sumedang. Karena pandemi Abti juga tidak bisa berbuat banyak selain memberikan support kepada petani tembakau.

“Memang untuk budidaya penanaman bako di Darmawangi Tomo, Ujung jaya, Wado, namun kebanyakan diolah di Tanjungsari. Selain Darmawangi jenis bako mole kesohor asli Sumedang yaitu Parugpug, Sidaraja, Cicareuh, Gayo Tanjungsari, Bako Tanjungsari Sukasari,” ujarnya.

Adanya roko tanpa cukai yang beredar di pasaran, lanjut Windi, menyebabkan adanya persaingan yang tidak sehat di pasaran yang menyebabkan kerugian bagi pengusaha tembakau yang resmi memakai cukai tembakau. Tak hanya petani dan pengusaha tembakau, tetapi negara juga rugi akibat tidak adanya cukai (pajak) yang masuk ke negara.

  • Bagikan