Berita  

Di Gedung Merdeka, Pemuda Persis Tegaskan Kader Muda Harus Berani Memimpin Perubahan

BANDUNG – Pemuda Persatuan Islam (Pemuda Persis) mulai menyusun langkah baru untuk menghadapi perubahan zaman. Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I Masa Jihad 2026–2031 digelar di Gedung Merdeka, Bandung, Sabtu (12/9/2026), dengan fokus pada pembenahan gerakan dan penguatan peran kader dalam kehidupan masyarakat.

Forum nasional tersebut mengangkat tema “Transformasi Gerakan Membangun Episentrum Dakwah Peradaban.” Bagi Pemuda Persis, pemilihan Gedung Merdeka sebagai lokasi Muskernas bukan sekadar persoalan tempat, tetapi sekaligus upaya menghidupkan kembali semangat perubahan yang melekat pada bangunan bersejarah tersebut.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis, Hilman Rasyid, mengatakan Gedung Merdeka memiliki pesan sejarah yang kuat bagi generasi muda. Tempat itu pernah menjadi panggung penting dalam perjuangan negara-negara Asia-Afrika menentukan masa depannya sendiri.

Menurut Hilman, semangat tersebut relevan dengan kondisi gerakan kepemudaan saat ini. Jika generasi terdahulu berhadapan dengan kolonialisme, anak muda sekarang menghadapi persoalan yang bentuknya jauh lebih beragam.

“Gedung Merdeka ini menjadi simbol keberanian untuk memimpin perubahan global, untuk menolak menjadi pengekor, dan siap berdiri tegak sebagai pilar peradaban,” kata Hilman.

Ia menilai tantangan Pemuda Persis kini tidak lagi hanya berada pada persoalan dakwah konvensional. Perkembangan teknologi, perubahan perilaku sosial, persoalan kesehatan mental, ketahanan ekonomi, hingga persoalan moral generasi muda menjadi tantangan yang harus dijawab melalui gerakan yang lebih adaptif.

Karena itu, Hilman mendorong adanya Tajdid Syamil, atau pembaruan yang dilakukan secara menyeluruh.

“Pemuda Persis hari ini dituntut untuk menghadirkan sebuah pembaharuan yang komprehensif, sebuah pembaharuan yang menyeluruh, yang oleh para ahli disebut sebagai Tajdid Syamil,” ujarnya.

Hilman juga mengingatkan kader Pemuda Persis agar tidak berhenti memahami konsep khairu ummah sebatas identitas keagamaan. Prinsip tersebut, menurut dia, mengandung tanggung jawab sosial yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Ia merujuk pada QS Ali Imran ayat 110 yang menyebut umat Islam sebagai khairu ummah, dengan tiga fondasi utama, yakni keimanan kepada Allah, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

Ketiga prinsip tersebut harus menjadi dasar kerja organisasi. Keimanan menjadi fondasi spiritual, amar makruf diterjemahkan dalam tindakan yang memberi manfaat bagi masyarakat, sedangkan nahi munkar menjadi upaya menghadapi berbagai kerusakan moral.

Hilman juga menyoroti frasa ukhrijat lin-naas dalam ayat tersebut. Baginya, bagian itu menunjukkan bahwa keberadaan kader Pemuda Persis harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi manusia.

Kader, kata dia, tidak cukup hanya dibentuk menjadi pribadi yang saleh secara individual. Mereka juga harus mampu mengambil bagian dalam pelayanan umat dan melanjutkan perjuangan membangun peradaban Islam.

Dalam konteks itu, Hilman menempatkan khittah sebagai pedoman penting agar transformasi organisasi tidak kehilangan arah.

Khittah Pemuda Persis menjadi garis perjuangan yang mengikat gerakan dakwah dan kaderisasi dengan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

“Khittah ini adalah jangkar yang menjaga kapal dakwah Pemuda Persis ini tetap stabil dalam mengarungi gelombang zaman hari ini,” katanya.

Ia mengingatkan, organisasi dapat kehilangan karakter apabila tidak memiliki pijakan perjuangan yang kuat. Pemuda Persis, menurutnya, jangan sampai berubah menjadi organisasi yang hanya mengejar popularitas tanpa mempertahankan ruh dakwahnya.

Karena itu, masa depan organisasi tidak bisa hanya dibangun dengan mengandalkan kejayaan masa lalu.

“Masa depan jam’iyyah kita hari ini itu tidak diwariskan. Masa depan jam’iyyah Pemuda Persatuan Islam itu harus dirancang, harus diperjuangkan dalam kebersamaan,” tegas Hilman.

Muskernas Dituntut Melahirkan Kerja Konkret

Pesan tersebut kemudian diarahkan pada pelaksanaan Muskernas I. Hilman menegaskan forum nasional itu harus menghasilkan lebih dari sekadar rumusan dan daftar program.

Menurut dia, visi dan khittah organisasi harus diterjemahkan menjadi agenda yang dapat dijalankan, memiliki ukuran keberhasilan, serta dapat dipertanggungjawabkan.

“Muskernas ini adalah ruang untuk menghadirkan kembali, untuk menerjemahkan kembali khittah gerakan kita, untuk menerjemahkan kembali visi gerakan kita, sehingga kita membuat sebuah program nasional yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” ujarnya.

Dengan demikian, Muskernas I Masa Jihad 2026–2031 diarahkan menjadi titik awal untuk memperkuat transformasi Pemuda Persis. Gerakan dakwah tidak hanya dituntut kokoh secara nilai, tetapi juga mampu menjawab persoalan konkret yang dihadapi generasi muda dan masyarakat.

Dari Gedung Merdeka, Pemuda Persis ingin membawa pesan bahwa kader muda tidak cukup menjadi pewaris sejarah. Mereka dituntut menjadi pihak yang ikut merancang, menggerakkan, dan mengisi masa depan peradaban melalui dakwah yang terukur dan kerja nyata.