Billboard Raksasa Bertuliskan Arteria Dahlan Harus Minta Maaf, Terpampang di GT Pasteur Bandung

Bliboard Raksasa
SEBUAH Billboard besar Tuntutan Permintaan Maaf Arteria Dahlan ke orang sunda terpasang di sekitaran GT Pasteur. IST

INISUMEDANG.COM Belum adanya permintaan maaf secara terbuka dari Arteria Dahlan atas ucapannya yang meminta pencopotan Kajati yang memakai bahasa Sunda saat rapat kerja dengan DPR, membuat isu Rasisme semakin panas di Bandung dan Jawa Barat. Tak terkecuali bullying dan hujatan ke Medsos milik Arteria Dahlan. Termasuk hujatan secara terbuka di papan billboard raksasa yang dipasang di Gerbang Tol Pasteur Bandung.

Ya billboard dengan panjang 4 meter x 8 meter itu terpampang jelas di Tol Pasteur. Sengaja penempatannya di arah menuju Bandung dari Jakarta agar terlihat kontras oleh rombongan pejabat di Jakarta yang akan ke Bandung.

Berdasarkan pantauan, Billboard yang terpasang di sekitaran Gerbang Pintu Tol Pasteur atau di Jalan Pasteur yang menuju Kota Bandung itu ternyata dipasang oleh Paguyuban Pasundan yang berbunyi Paguyuban Pasundan, Arteria Dahlan Harus Minta Maaf ke Orang Sunda.

Ketua Umum Pengurus Besar
Paguyuban Pasundan , Prof. Dr. H.M Didi Turmudzi, MSi mengatakan apa yang dikatakan Arteri Dahlan dalam rapat dengar pendapat di Komisi II DPR RI. Sungguh menyinggung dan melukai masyarakat Sunda.

Paguyuban Pasundan Meminta Arteria Dahlan Segera Minta Maaf Kepada Masyarakat Sunda

“Oleh karena itu kami (Paguyuban Pasundan .red) ingin agar Pak Arteria Dahlan segera minta maaf kepada masyarakat Sunda untuk menghindari polemik yang lebih besar”. Tegasnya, dalam siaran persnya Rabu (19/1/2022).

Prof Didi, menilai sebagai politisi Arteria seharusnya memiliki jiwa patrionalisme dan menghormati setiap keberagaman suku bangsa yang ada di Indonesia, termasuk didalamnya suku Sunda.

Prof Didi juga menyesalkan pernyataan sensitif yang terlontar dari seorang anggota DPR RI yang memang dipilih oleh rakyat. Dalam forum terbuka dan disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia , dan itu sudah dianggap suatu ucapan rasisme.

Padahal menurut Prof Didi, Anggota dewan harusnya paham sejarah perjuangan bangsanya. Dan sangat mengerti tentang kebhinekaan yang tentunya harus dijaga oleh segenap bangsa.

“Bukankah Bendera dan Bahasa sudah diatur dalam UUD?, Jika Bahasa daerah itu dilindungi bahkan dicantumkan juga jika Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Jadi apakah pantas seorang Anggota DPR mengemukakan hal yang bertentangan dengan UUD?,” ungkap Prof Didi.