Banner Iklan bjb
Berita  

Berikut Bunyi Sumpah Setia Napi Teroris Terhadap NKRI di Lapas Sumedang

Ikrar Setia Hanif Ali Bahost bin Ali Muhammad Bahost seorang narapidana terorisme terhadap NKRI.

INISUMEDANG.COM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sumedang kelas IIb menggelar ikrar kesetiaan Narapidana (Napi) teroris kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di aula Lapas Sumedang Selasa 24 Januari 2023.

Hanif Ali Bahost bin Ali Muhammad Bahost sebagai Napi teroris telah mengucapkan sumpah ikrar kesetiaan terhadap NKRI, bahwa dirinya telah menyesali atas perbuatannya tersebut dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Berikut isi bunyi ikrar seorang Napi teroris di Lapas Kelas IIb Kabupaten Sumedang.

Pernyataan Setia terhadap NKRI yang bertanda tangan dibawah ini, saya bernama Hanif Ali Muhammad kasus teroris melanggar pasal 15 junto pasal 7 dan/atau pasal 13a Perpu no 1 tahun 2022. Kelompok jaringan JAD Agama Islam pada hari ini Selasa 24 Januari tahun 2023.

Demi Allah wallohi, saya berjanji untuk setia terhadap NKRI dan akan melindungi segenap tanah air Indonesia dari segala tindakan tindakan aksi terorisme yang dapat memecah belah kesatuan Indonesia.

Kedua, saya melepaskan ba’iat saya kepada pimpinan Amir JAD atau ISIS yaitu Abu Bakar al-Baghdadi atau Ibraham Alhasyyimi Al-Qurashi dan atau Amir pemimpin organisasi radikal lainnya.

Ketiga, saya menyesali kesalahan yang telah saya lakukan dan saya tidak akan bergabung dengan Amir kelompok teroris yang lainnya, yang terlibat dan menyetujui aksi teror dimanapun di dunia ini.

Hal ini saya sampaikan, bukan karena saya berada dalam tekanan ataupun paksaan dari pihak manapun. Tetapi karena saya telah menyadari bahwa Pancasila dan Undang-Undang 1945 tidak bertentangan dengan Islam dan pemahaman Agama yang saya yakini.

Demikian pernyataan saya ini, saya sampaikan untuk dapat saya pertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai informasi Hanif Ali Bahost bin Ali Muhammad Bahost divonis 4 tahun penjara karena terjerat kasus terorisme di Surabaya yang bermula di Sosial Media.