Antisipasi Bencana Banjir, Mahasiswa Fisip Unpad Tanam Lahan Kritis di Gunung Geulis

  • Bagikan
HIMA IP Unpad

INISUMEDANG.COM,- Mengantisipasi terjadinya bencana alam terutama banjir, Himpunan Mahasiswa (Hima) Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad, bersama Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis, Karang Taruna Jatimukti dan Pemdes Jatimukti menanam sejumlah jenis pohon di lahan kritis bekas galian C di Blok Jatisaat Desa Jatimukti Kecamatan Jatinangor, Minggu (28/11/2021).

Ridho Apriansyah, selaku Presiden Hima Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad mengatakan penanaman itu selain bentuk kepedulian lingkungan juga dalam bentuk program pengabdian masyarakat yakni penghijauan. Karena memang itu salah satu yang kita lihat kita capture permasalahan di Jatinangor ada lahan bekas tambang galian C yang sampai hari ini action plan atau restorasi kembali lahan tersebut masih belum ke pada titik yang optimal.

“Maka kita coba intervensi dalam artian positif kita pakai konsep pentahelix, kita coba berkolaborasi bersama masyarakat setempat pemerintah Desa Jatimukti selaku yang punya wilayah, termasuk forum petani yang ada di sini. Untuk targetnya penghijauan sendiri sesuai kesepakatan bersama pemerintah Desa Jatimukti itu 10 hektar. Tapi berdasarkan pertimbangan kita dan sumber daya manusia yang ada, kita jadikan program jangka panjang. Maka tahun ini tahun pertama dalam penghijauan ini kita mulai dikisaran 70 sampai 100 bibit pohon dulu,” ujarnya.

Menurut Ridho, meskipun baru kali pertama yang dilakukan Hima Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad, tetapi sebelumnya di 2019 BEM Kema Unpad sudah pernah melakukan penanaman di lahan kritis bekas galian C ini. Dan ini akan menjadi pilot projek jurusan jurusan lain yang ada di Fisip Unpad untuk melakukan hal yang sama. Sebagai mahasiswa dengan basic ilmu pemerintahan, pihaknya akan terus mendorong Pemerintah Desa Jatimukti untuk membuat peraturan Desa karena sangat dimungkinkan pemerintah Desa membuat sebuah peraturan karena itu dimungkinkan lewat undang-undang Desa untuk memastikan bahwa kawasan tersebut kita dijadikan kawasan konservasi bersama.

“Bisa kawasan konservasi berbasis pendidikan, berbasis ekowisata dan lain sebagainya. Pengawasan secara langsung juga dari mahasiswa ke sini harus dilakukan. Kami merasa mahasiswa sangat memungkinkan untuk terus mengatur instansi-instansi formal untuk melakukan tindakan-tindakan yang lebih dari apa yang kita lakukan hari ini misalnya membuat regulasinya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis Desa Jatiroke, Saepudin sangat mengapresiasi sekali kegiatan yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad ini. Namun yang terpenting, lanjut Saepudin bentuk nyata perhatian dari pemerintah setempat dan tokoh masyarakat Jatinangor untuk membangun kesadaran menjaga dan merawat lingkungan, jangan sampai, setelah ada bencana baru saling menyalahkan.

“Sekarang lagi begitu booming-nya berita-berita kaitan dengan bencana banjir. Memang tidak banyak orang yang sangat peduli bahwa dari apa sebetulnya akibat banjir itu sendiri, yang pasti tidak lepas dari pada sejauh mana pertama pengelolaan lahan di Hulu. Kedua sejauh mana kepedulian masyarakat kepada pengelolaan lahan itu sendiri, termasuk tokoh-tokoh masyarakat. Dikala pas musim penghujan gini baru ribut-ribut saling berargumen dan berspekulasi penyebab banjir,” ujarnya.

Saepudin menambahkan, pihaknya mengajak bahwa perlu penanganan dari semua untuk memperbaiki lingkungan supaya ke depan kejadian-kejadian banjir terutama di Jatinangor ini tidak terulang kembali. Barangkali salah satunya dengan adanya program penanaman ini.

“Saya yakin rencana mereka juga berkelanjutan melalui himpunan dan organisasi kemahasiswaan. Jadi bisa lebih efektif ke depan, tidak hanya menanam saja, tetapi ada cara pemeliharaan dengan kontinuitas ya minimal tiga bulan satu kali ada pemeliharaan,” tandasnya.

  • Bagikan