Tiga Masalah Utama yang Menjadi Budaya di Sumedang Saat Memulai Berwirausaha

  • Bagikan
Ketua PHRI Sumedang
IMAN NURMAN WAWANCARA: Ketua PHRI Kabupaten Sumedang H Nana Mulyana saat diwawancara wartawan

INISUMEDANG.COM – Untuk menumbuhkan kembali jiwa wirausahawan (enterpreneur) pasca pandemi Covid-19 di Kabupaten Sumedang. Harus ada upaya habis-habisan di desa-desa yang menjadi masalah utama saat memulai berwirausaha.

Namun kendalanya ada di SDM (Sumber Daya Manusia) sehingga harus dibangunnya SDM mumpuni hingga ke tingkat desa.

Demikian disampaikan Direkrut Gerakan Wirausaha Muda (Garuda) Sumedang, H. Nana Mulyana seusai beraudiensi dengan Bupati Sumedang di Gedung Negara, beberapa waktu lalu.

Selain itu, sambung H Nana, ada tiga masalah utama yang masih menjadi budaya di Sumedang terutama dalam memulai berwirausaha.

Masalah pertama adalah yakni pola pikir. Sehingga harus mencari cara untuk merubah merubah mind set para generasi muda di Sumedang agar menjadi menjadi seorang wirausahawan.

Kemudian, masalah yang kedua adalah para generasi muda di Sumedang belum siap menjadi pengusaha.

“Sejumlah permasalahan yang sering dialami oleh anak-anak muda di Sumedang, ketika akan memulai berwirausaha yaitu sudah dibayang-bayangi ketakutan. Seperti, bagaimana kalau bangkrut, terus modalnya dari mana, ngejualnya harus kemana, kemudian bagaimana kalau tidak laku. Itu semua merupakan bagian permasalahan yang harus segera diatasi,” kata Owner Kampung Karuhun ini.

Sementara masalah ketiga, lanjut H Nana, yaitu soal keterampilan, jika seseorang tidak mempunyai keterampilan maka untuk menghasilkan sesuatu yang bagus adalah nol besar.

“Sebetulnya, untuk pondasinya sudah buat, seperti ada kampung alumunium, peci, kaos kaki, kolor, sepatu, tas, kerudung, sampai busana muslim. Itu semua bagian dari sumberdaya alam yang kita miliki. Hanya saja yang kurang dari kita adalah bagiamana mengkapitalisasi,” tuturnya.

Untuk itu sebagaimana dikatakan Bupati Sumedang, tambah Nana, jika ekonomi lokal (Sumedang) ingin kuat, harus ada upaya kolaboratif dari pihak perbankan, dan SOPD.

“Kita harus bangga dengan prodak Sumedang, karena kita sudah mencetak anak-anak muda yang asalnya tidak tahu apa-apa, selanjutnya dilatih dengan tiga hal tadi. Sehingga sekarang produk di Sumedang bisa berdaya saing dengan produk lain, dan tentunya dapat dipasarkan ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar H Nana.

  • Bagikan