SITH ITB dan Forum Petani Gugels Buka Wisata Petik Kopi Sendiri

  • Bagikan

JATINANGOR– Upaya memulihkan pangsa pasar kopi yang sempat turun drastis akibat pandemi, PPM Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH) ITB bersama Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor membuka Wisata Petik Kopi di Kebun (Wistikobun) di Perkebunan Kopi Gunung Geulis Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor.

Ketua PPM SITH ITB, Dr Yayat Hidayat mengatakan wisata petik kopi itu sebagai gebrakan para petani kopi di sekitaran Gunung Geulis yang merosot pendapatannya akibat pandemi Covid 19. Mencoba mempertahankan harga kopi di pasaran dan sebagai pemberdayaan petani ditengah pandemi, maka wisata untuk umum memetik kopi sekaligus memproduksi dari biji cery sampai pengemasan bisa dinikmati wisatawan.

“Sangat jarang wisata petik kopi sendiri. Yang ada petik stroberi, atau petik jeruk di Kebun. Nah, kali ini kami bersama Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis Desa Jatiroke mencoba ke arah sana. Ya selain bisa mengenalkan lebih dekat kopi dengan wisatawan, juga bisa dijual tiket, parkir, kerajinan khas Jatinangor ke masyarakat luas. Yang menarik, wisatawan bisa mengetahui bagaimana memetik kopi memproduksi secara tradisional sampai mengemas kopi. Selain wisata juga ada edukasinya,” katanya.

SITH ITB sendiri, lanjut Yayat, menjadi motivator sekaligus pembimbing para petani di kawasan hutan pendidikan ITB yang berada di Gunung Geulis. Lahan seluas 300 Ha tersebut digarap petani lokal di sana, demi menjaga kelestarian hutan dan ekosistem lainnya. Sekaligus menjaga hutan dari kebakaran, pembalakan, hingga penjarahan kayu hutan.

“Ya kami apresiasi sekali atas kerja sama dengan petani selama ini. Mereka bisa menggarap lahan, menjaga hutan, dan melestarikan lingkungan. Tentunya konsep agroprorestry Ini benar benar dikembangkan petani fi sana dengan bimbingan dari pihak ITB,” ujarnya.

Yayat menambahkan, kerja sama yang telah terjalin tidak hanya ini saja. Namun, SITH ITB bersama petani dalam rangka pengabdian kepada masyarakat sudah jauh jauh hari memberikan bimbingan dan penyuluhan.

“Seperti budidaya tanaman, pemanfaatan limbah kopi, mengawetkan bambu, pengemasan kopi hingga pemasaran kita sudah lakukan ke petani. Artinya, bukan kali ini saja kegiatannya. Namun, karena pandemi sempat libur karena perkuliahan mahasiswa dan dosen dilakukan secara Daring,” katanya.

Baca Juga : Kapolres Tinjau Objek Wisata Cigorobog Desa Citengah

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Petani Gunung Geulis Desa Jatiroke, Saepudin menambahkan dengan adanya bimbingan dari pihak ITB tentu sangat membantu para petani di sana. Sebab, tidak hanya dalam bidang teori, ITB juga memberikan contoh dalam bidang praktek. Sebagai contoh teknik produksi kopi dengan mesin dan pengemasan hingga pemasaran melalui internet.

“Khusus untuk ini, sebetulnya rangkaian kerjasama antara petani dan SITH ITB. Jadi, kontinue, mulai dari pemilihan bibit kopi, penanaman, perawatan, hingga kemampuan SDM dalam mengemas kopi. Kami banyak mendapat ilmu baru dari ITB yang tak bisa diraih dsri pengalaman,” ujarnya.

Terkait kualitas kopi Gugels, lanjut Saepudin, ternyata jenis Arabika bisa ditanam di ketinggian diatas 1000 Mdpl. Artinya, kopi gunung geulis memiliki khas tersendiri karena jenis Arabika ditanam diatas ketinggian 1000 meter, biasanya dibawah ketinggian 1000 meter. Namun, jika tidak dikemas dan cara produksi yang baik, tidak akan menghasilkan kopi berkualitas.

“Makanya kita kolaborasi dan dikenalkan ke pecinta kopi cara yang berbeda. Selain ngopi, juga dari mulai petik sendiri sampai pengolahan. Diantaranya pemilihan biji kopi pilihan, pencucian, penggilingan (penghilangan cangkang), penjemuran, disangrai, dan ditumbuk hingga dikemas,” katanya.

  • Bagikan