Penurunan Stunting Menjadi Prioritas Anggota DPRD Provinsi di Sidang Reses

  • Bagikan
Reses DPRD Provinsi Jabar
SOSIALISASI STUNTING: Wakil Ketua DPRD Provinsi Jabar, Ineu Purwadewi bersama komunitas Halo Puan saat sosialisasi bahaya stunting sekaligus reses di Gor Desa Cisempur Kecamatan Jatinangor - IMAN NURMAN

INISUMEDANG.COMTingginya angka stunting di Indonesia termasuk di Jawa Barat menjadi perhatian serius pemerintah dalam rangka menurunkan angka stunting kepada berbagai elemen masyarakat. Ini pun yang dilakukan anggota DPRD Provinsi Jabar dari Fraksi PDIP, Hj Ineu Purwadewi Sundari dalam kegiatan Reses Sidang 1 yang digelar di Gor Desa Cisempur Kecamatan Jatinangor, Kamis (2/12).

Menurut Wakil Ketua DPRD provinsi Jabar ini, Stunting adalah kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan anak normal seusianya. Stunting merupakan kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya dan memiliki penyebab utama kekurangan nutrisi.

“Ya seperti biasa, reses ini tentunya melakukan dan menampung aspirasi dari masyarakat. Kebetulan hari ini memang saya mengkhususkan Reses untuk ibu hamil, ibu menyusui, orang tua, orang muda. Supaya ada kesadaran untuk menjaga anaknya terhindar dari stunting. Kemudian juga tadi hadir pak camat Bu Kades ya untuk bisa bersama-sama juga melawan stunting. Saya berharap tadi selain sosialisasi juga ada Perda Perda yang mengatur stunting, kemudian partisipasi pemerintah daerah terhadap penanganan stunting ini juga bisa berjalan maksimal,” ujarnya.

Menurutnya, stunting dimulai sejak terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma. Jika orang tua mengalami kekurangan gizi, berpotensi mempengaruhi proses tumbuh kembang embrio sejak hari pertama sampai 38 minggu di dalam rahim.

“Bisa juga kebiasaan merokok yang bisa menyebabkan gangguan tumbuh kembang otak bayi di dalam kandungan,” ujarnya.

Hasil rapat terbatas (ratas), kata Anggota DPRD Dapil Sumedang, Majalengka, Subang ini, pemerintah telah menargetkan program penurunan stunting guna mencapai Indonesia emas di tahun 2045 nanti. Atau minimal di 2022 nanti, angka penurunan stunting bisa lebih kelihatan dari tahun sebelumnya.

“Kondisi stunting di Jabar berdasarkan hasil survei pada 2009 berhasil menurunkan 35,3 Persen. Pada 2018 mencapai 21,1 Persen, dan pada 2019 mencapai 26.2 persen,” ujarnya.

Dia berharap, Sumedang harus turun tingkat stunting pada tahun 2024 dengan zero persen. Sebab, Pemkab Sumedang telah gencar gencarnya melaksanakan sosialisasi penanganan stunting.

“Tentunya dalam 2 tahun ke depan ini kan harus ada lonjakan kinerja yang betul-betul bisa dilakukan secara bersama-sama di Jawa Barat. Selain kita juga fokus ke perencanaan dan anggaran tentunya kita juga melakukan kerjasama dengan berbagai pihak selain stakeholder juga secara pentahelix juga dengan swasta. Kemudian dengan media, akademisi semua kita melakukan kerjasama dalam rangka penurunan angka stunting di Jawa Barat,” ujarnya.

Ineu menambahkan, tujuan Reses ini selain menyerap aspirasi juga menyiapkan diri supaya nanti menciptakan anak-anak sumber daya manusia yang betul-betul berkualitas dan terbebas stunting. Tadi juga ada inovasi terkait dengan daun kelor yang dijadikan serbuk yang banyak manfaat salah satunya untuk menghindari stunting. Kebetulan, pihaknya bekerja sama dengan Komunitas Halo Puan dan juga ada narasumbernya Kepala Puskesmas.

“Kita melibatkan Puskesmas supaya masyarakat secara teratur menimbang anaknya memeriksakan kesehatan anaknya ke Posyandu dan Puskesmas sehingga betul-betul bisa terhindar dari stunting. Jika terdeteksi sejak dini insya allah stunting tidak akan mengenai anak anak kita,” tandasnya.

  • Bagikan