Banner Iklan bjb

Oh Ternyata Ini Dugaan Penyebab Amblasnya Warung Makan di Cigendel Pamulihan Sumedang

AMBROL: Dua warung makan di Wahana Wisata Cigendel Kecamatan Pamulihan Sumedang, amblas terbawa longsor.

INISUMEDANG.COMHujan deras yang mengguyur kawasan Pamulihan Sumedang dan konstur tanah yang labil, diduga menjadi penyebab amblasnya warung makan di wisata Cigendel Desa Cigendel Kecamatan Pamulihan Sumedang. Demikian dikatakan Suryana Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Rancakalong kepada wartawan di lokasi longsor, Senin (25/4).

Menurut Suryana seluruh bangunan yang ada di kawasan wisata RM Cigendel adalah milik Perhutani. Bangunan warung itu dibangun sejak tahun 1995 dan dipastikan layak karena setiap tahun diadakan pemeliharaan rutin. Namun, karena kondisi cuaca hujan deras dan kontur tanah sudah labil ditambah beban berat kendaraan yang melintas sehingga tanah longsor.

“Sebelum kejadian, ada dua pohon pinus tepat di belakang bangunan tumbang. Nah, mungkin dari tidak kuatnya akar pohon yang tertanam sehingga tebing setinggi 15 meter dan lebar 25 meter itu amblas,” ujarnya.

Beruntung, lanjut dia, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, hanya saja kerugian materi ditaksir mencapai Rp200 Jutaan.

Hujan Deras Memang Penyebab Tanah Menjadi labil dan Pohon Yang Akarnya Menahan Erosi Menjadi Sama-sama Amblas, Serta Berakibat Amblasnya Warung Makan Cigendel

“Kerugian kalau ditotalkan sama perabotan rumah itu kurang lebih Rp200 juta, per warung kita kalkulasikan Rp100 juta. Bangunan ini memang milik Perhutani namun perabotan milik warga yang menyewa warung,” ujarnya.

Suryana mengatakan, tak hanya pohon di belakang warung yang tumbang, TPT di seberang jalan juga sama sama roboh. Artinya, hujan deras memang penyebab tanah menjadi labil dan pohon pohon yang akarnya menahan erosi menjadi sama sama amblas, serta berakibat amblasnya warung makan Cigendel. Pihak Perhutani pun menampik jika tak ada pemeliharaan bangunan, justru setiap tahun rutin dilakukan pemeriksaan.

“Warung itu disewa warga per bulan Rp350 ribu, namun karena pandemi jadi bayarnya alakadarnya. Bangunan yang roboh yakni milik Ibu Neha dan Rumanah warga Dusun Sindanghurip Desa Cigendel Kecamatan Pamulihan Sumedang,” katanya.

Sementara itu, pemilik warung Rumanah (62), mengaku saat kejadian dirinya baru pulang ke rumahnya yang tak jauh dari TKP. Sebab, selama puasa warung makan tutup jam 19.00 atau selepas isya. Kecuali jika bulan bulan biasa, warung buka sampai jam 9 malam.

“Waktu itu setelah solat isya saya pulang ke rumah, bermaksud akan tarawih. Setelah 30 menit baru ada kabar warung amblas, terbawa longsoran. Saya langsung kembali ke warung, semua barang dagangan termasuk kompor, tabung gas, tv, kulkas, radio, dan perabotan warung semua terbawa longsor tak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Erum, sapaan akrabnya mengaku mulai berjualan di situ sejak tahun 2000. Sejak tahun itu memang tidak ada perbaikan atau rehab total bangunan, hanya pemeliharaan kecil kecilan seperti mengganti asbes gang bocor, dinding bilik, dan perbaikan perbaikan kecil, tidak sampai mengganti beton.