Banner Iklan bjb
Berita  

Miris! Kerja Belasan Tahun, Petugas Kebersihan di Sumedang Ini Hanya Digaji Rp 300 Ribu

Gaji Petugas Kebersihan Sumedang
Budi Nugraha (42) petugas kebersihan pasar Impres Sumedang Kota di bawah naungan Diskop UKMPP Kabupatén Sumedang.

INISUMEDANG.COM – Budi Nugraha (42), Warga Dusun Pamarisen, Desa Mekarjaya, Kecamatan Sumedang Utara meminta perhatian dari Pemkab Sumedang. Pasalnya, dirinya yang telah bekerja 12 tahun lamanya sebagai petugas kebersihan, hanya digaji sebesar Rp 300 ribu setiap bulannya.

Budi sendiri diketahui bekerja di lingkungan pasar Impres Sumedang Kota. Di bawah naungan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKMPP).

Setiap harinya, ia bertugas mengumpulkan sampah-sampah pasar untuk kemudian diangkut dengan menggunakan sebuah gerobak ke tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS).

“Saya turun ke lapangan mulai dari jam 06.30 pagi, kalau pulang kerja tergantung banyaknya sampah. Kalau sedikit jam 09.00 pagi sudah pulang, kalau banyak sampai jam 01.00 siang,” kata Budi belum lama ini.

Budi mengaku setiap harinya biasa mengangkut sebanyak satu gerobak sampah hingga tiga gerobak sampah.

“Kalau lagi sedikit itu paling satu gerobak sampah namun kalau lagi banyak sampai tiga kali penarikan gerobak sampah,” ujarnya.

Budi yang berstatus sebagai tenaga honorer mengaku telah 12 tahun lamanya menjadi petugas kebersihan pasar. Dan selama itulah, Budi telah bergelut dengan bau-bauan sangat tidak sedap dari sampah basah pasar yang dihasilkan setiap harinya.

Namun mirisnya, upah Budi tidak sebanding dengan risiko pekerjaannya tersebut. Gaji bulanan yang diterimaanya hanya sebesar Rp 300 ribu dari sejak 2016. Bahkan, saat awal-awal dirinya bekerja hanya diberi upah bulanan sebesar Rp 50 ribu.

Gaji Petugas Kebersihan Pasar di Sumedang Rp. 300 Ribu

“Awalnya gaji bulanan saya itu 50 ribu, kemudian naik jadi 100 ribu. Dan pas sejak 2016 sampai sekarang menjadi 300 ribu,” terangnya.

Dengan gaji sebesar itu, jangankan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Untuk jajan dan ongkos menuju ke tempat bekerjanya pun dirasakan sangat berat oleh Budi.

“Inimah untuk buat ongkos saya dan jajan anak saja, itu tidak cukup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari”. Ungkap Budi yang kini bersama istrinya telah dikarunia dua orang anak yang masing-masing berusia 2 tahun dan 11 tahun.

Dengan risiko pekerjaannya, Budi sendiri tidak memiliki jaminan kesehatan apapun. Bahkan ia tidak termasuk ke dalam peserta bebas iuran (PBI) dari BPJS Kesehatan.

“Ya kalau sakitmah ditanggung sendiri karena tidak punya BPJS, BPJS yang ada baru BPJS Ketenagakerjaan itu pun baru berlangsung sekitar dua tahunan,” ungkapnya.

Selain minimnya gaji, minimnya standar prosedur keamanan yang diterima Budi sebagai petugas kebersihan di Sumedang ini. Dari segi pakaian dan peralatan yang diketahui sudah 3 tahun lamanya tidak diganti-ganti.

“Kalau dulu tiap tahun ada jatah buat sarung tangan, sepatu boot dan topi, kalau sekarang sudah tiga tahun tidak ada lagi itu. Untuk gerobak saja sekarang bawahnya sudah saya tambal pakai kayu, terus sarung tangan sudah pada robek,” ucapnya.

Terkait kondisi tersebut, Budi meminta perhatian dari Pemkab Sumedang terutama soal kenaikan gaji. Pasalnya, jika dibanding dengan petugas kebersihan di dinas lain, gajinya ada yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dirinya yang telah mengabdi belasan tahun lamanya.

“Kalau petugas kebersihan dari DLHK Sumedang yang biasa mungutin sampah ke pemukiman, itu gajinya sampai 1,7 juta padahal mereka baru beberapa bulan saja bekerja, sementara saya sudah bekerja belasan tahun gajinya tidak naik-naik,” terangnya.