Keraton Kutamaya Tinggal Cerita, Kini Jadi Sawah di Padasuka

Keraton Kutamaya
Makam Leluhur Sumedang Larang, di Area Pesawahan di Padasuka Sumedang, menurut cerita dahulu Keraton Kutamaya

INISUMEDANG.COM KERATON KUTAMAYA, Pupuhu Kampung Buhun Sumedang Larang cikal bakal Kabupaten Sumedang adalah berdirinya sebuah kerajaan di tatar Sumedang yaitu Kerajaan Sumedang Larang.

Pupuhu Kampung Buhun Sumedang Larang, R. Supian Apandi menuturkan, menurut Wawacan Babad Sumedang karangan R.A.A Martanagara tahun 1936, jauh sebelum berdiri Kerajaan Sumedang larang, telah berdiri kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih di Leuwi Hideung Darmaraja.

“Dalam beberapa dokumen di Museum Prabu Geusan Ulun bahwa berdirinya kerajaan Tembong Agung berkisar pada tahun 675 M. Setelah Prabu Guru Aji Putih menyerahkan kekuasaannya ke putranya yaitu Prabu Tadjimalela pada tahun 721 M. Kerajaan berganti menjadi Himbar Bhuana kemudian menjadi Sumedang larang,” cerita Supian kepada IniSumedang.Com, Sabtu (8/1/22).

Dikatakan Supian, Kerajaan Sumedang larang mencapai puncak kejayaan pada masa Prabu Gheusan Ulun, yang merupakan Putra dari ibu Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri. Pada masa tersebut pemerintahan terletak di Keraton Kutamaya, Desa Padasuka sekarang, yang kini jadi pesawahan.

“Pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M Pajajaran “Sirna ing bumi” ibukota Padjajaran jatuh ketangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten. Pada tahun 1578 tepatnya pada hari Jum’at legi tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang,” ujarnya.

Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sanghiang Kondanghapa.

“Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Padjadjaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya atau Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 – 1610) sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda,” paparnya.