Kawin Siri Kini Bisa Buat KK dan Akta Loh!

  • Bagikan
Prof. Zudan Arif Fakrulloh
Tangkapan Gambar Prof. Zudan Arif Fakrulloh, Dirjen Dukcapil Kemendagri dari Youtube Sinar Harapan Net

INISUMEDANG.COM – Perkawinan siri atau biasa kita kenal dengan nikah siri merupakan nikah yang tidak dicatatkan di pemerintah, dalam hal ini Kantor Urusan Agama (KUA). Sehingga, tidak mempunyai kekuatan hukum terlebih pada ibu dan anaknya.

Namun, bagaimana dengan hak terhadap para pihak terkait dengan dokumen kependudukannya terutama berkaitan dengan Kartu Keluarga (KK) maupun Akta Kelahiran si anak?.

Menurut Prof. Zudan Arif Fakrulloh selaku Dirjen Dukcapil Kemendagri, bahwa salah satu tugas Dukcapil adalah mencatat peristiwa kependudukan, sementara peristiwa kependudukan itu ada dua, yakni peristiwa kependudukannya sendiri seperti orang pindah penduduk, pembuatan KTP el biodata dan peristiwa penting. Peristiwa penting itu yang meliputi kawin, cerai, lahir, mati, pengakuan anak dan pengangkatan anak.

“Dan khusus soal perkawinan ini ada dua, yakni kawin yang tercatat di lembaga negara seperti kalau Islam di KUA, atau non muslim di Dukcapil, tetapi ada perkawinan yang sudah terjadi tetapi belum dicatatkan, dan inilah yang disebut dengan kawin siri itu,” jelas Zudan sebagaimana dilansir dalam kanal Youtube Sinar Harapan Net.

Prof Zudan menjelaskan, kalau dulu kawin siri ini belum standar di seluruh Indonesia, ada yang dicatat dengan status kawin ada yang tidak dicatat, atau bahkan disebut juga ditulis belum kawin. “Inilah yang temen temen perlu ketahui, dan akhirnya mulai tahun 2015 di Dukcapil kemudian diperbaiki sistem pencatatannya,” jelasnya.

Syarat Kawin Siri Tercatat Dalam KK

Zudan menerangkan, sehingga saat ini dalam KK dicatat semua, kawin siri maupun kawin tercatat. Jadi, dalam KK itu nanti ada dua, yakni kawin tercatat dan kawin belum tercatat. “Maka syarat kawin siri tercatat dalam KK diantaranya harus ada Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) yang merupakan pernyataan dari para pihak yakni suami dan istri (yang siri), pada intinya yang menyatakan mereka sudah menikah, disana ada walinya orang yang menikahkan dan dua orang saksi,” sebutnya.

Namun kata Zudan, dengan hal tersebut pihaknya tidak dalam posisi menyatakan perkawinan itu sah atau tidaknya tetapi lebih kepada mencatat peristiwanya. Lalu bagimana kalau yang kawin siri itu si suami statusnya perjaka atau duda jika ingin membuat KK, maka dalam hal ini diberikan kebebasan, bisa suami dan istrinya tetap masuk di KK orangtuanya masing-masing, atau suaminya masuk di KK orangtua istrinya atau sebaliknya, atau membuat KK sendiri suami istri tersebut dengan tulisan kawin belum tercatat. Sedangkan bagi yang nikah siri tetapi suaminya sudah memiliki istri, maka suami tersebut harus memilih salahtunya mau masuk di KK mana, tidak boleh dobel.

Sedangkan terkait akta kelahiran anak, di Indonesia ada empat bentuk nama akta kelahiran, yakni nama akta kelahiran bagi anak yang ayah dan ibunya sudah kawin tercatat, yang kedua akta kelahiran bagi anak dengan ayah ibunya kawin belum tercatat, yang ketiga, akta kelahiran hanya dengan nama ibu saja tidak ada bapaknya, dan yang keempat akta kelahiran hanya berisi dengan nama anak, misalnya bagi anak yang tanpa dikeyahui asal usul keluarganya di panti asuhan atau atas penemuan polisi di suatu tempat, dan lain-lain.

  • Bagikan