CIAMIS – Persoalan modal masih menjadi salah satu tantangan utama petani dalam memulai musim tanam. Berangkat dari persoalan tersebut, Ipan Zulfikri menginisiasi pengembangan sistem kemitraan plasma melalui Pangangonan Farm di Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis.
Melalui pola ini, petani mitra tidak harus menyiapkan seluruh biaya produksi sejak awal. Pangangonan Farm menyalurkan bibit dan pupuk terlebih dahulu, kemudian kewajiban pembayaran dilakukan setelah petani memperoleh hasil panen.
Model tersebut dirancang untuk membuka akses produksi bagi petani yang memiliki lahan dan tenaga, tetapi terbatas dalam modal kerja.
Untuk menjaga keberlangsungan perputaran modal, Pangangonan Farm memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai salah satu instrumen pembiayaan usaha.
Dari Pangangonan Farm Lahir Pranajaya Farm
Seiring berkembangnya pola kemitraan, Ipan Zulfikri kemudian menginisiasi pembentukan Pranajaya Farm sebagai perusahaan yang mengembangkan dan mengelola sistem plasma tersebut.
Pranajaya Farm diarahkan bukan hanya sebagai perusahaan pertanian, tetapi sebagai penghubung antara petani dengan sarana produksi, pembiayaan, pendampingan, pengelolaan hasil dan pasar.
Dengan pola tersebut, petani tidak berjalan sendiri. Mereka menjadi bagian dari sebuah rantai usaha yang lebih terorganisasi.
Saat ini, sistem plasma yang dikembangkan Pangangonan Farm telah berkembang hingga lingkup satu kecamatan, dengan melibatkan petani dalam kegiatan produksi pertanian.
Bangun Ekosistem Pertanian dan Peternakan
Pengembangan sistem plasma juga diperkuat melalui kerja sama dengan HPDKI Kecamatan Cidolog.
Kerja sama tersebut membuka peluang integrasi antara sektor pertanian dan peternakan. Hasil pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, sementara limbah peternakan berpotensi dikembalikan ke sektor pertanian dalam bentuk pupuk organik.
Dengan demikian, kegiatan usaha tidak berhenti pada produksi dan penjualan komoditas, tetapi mulai diarahkan menjadi siklus ekonomi pertanian terpadu.
Ipan Zulfikri mengatakan, inti dari model yang dibangun bukan sekadar memberikan bibit dan pupuk kepada petani.
“Yang dibangun adalah sistem. Petani punya lahan dan tenaga, perusahaan membantu membuka akses modal, sarana produksi dan pasar. Setelah panen, hasil produksi menjadi bagian dari siklus usaha berikutnya,” demikian gagasan yang menjadi dasar pengembangan model tersebut.
Bukan Sekadar Bantuan
Model plasma ini mencoba menawarkan pendekatan berbeda dalam pemberdayaan petani. Jika bantuan biasanya berhenti ketika bantuan diberikan, sistem plasma justru menempatkan bantuan sarana produksi sebagai bagian dari hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Tantangannya adalah memastikan kemitraan berjalan transparan, mulai dari pencatatan modal, biaya produksi, harga hasil panen hingga mekanisme pembayaran. Tata kelola tersebut menjadi penting agar hubungan antara perusahaan dan petani benar-benar menjadi kemitraan, bukan sekadar hubungan utang-piutang.
Dari Cidolog, Pangangonan Farm bersama Pranajaya Farm mencoba membangun model bahwa pemberdayaan petani tidak harus selalu dimulai dari bantuan.
Petani diberi akses untuk berproduksi, perusahaan membangun sistemnya, dan hasil panen menjadi penggerak siklus usaha berikutnya.
Model inilah yang kini terus dikembangkan Ipan Zulfikri bersama para mitra untuk memperluas ekosistem pertanian berbasis masyarakat di Cidolog.





