SUMEDANG – Berawal dari kegemaran mengoleksi mainan squishy, Naya Novariana Faiqa, siswi kelas XII-9 SMA Al Ma’soem, mengembangkan bisnis impor mainan dari China. Usaha yang dirintisnya sejak sekolah itu kini menghasilkan omzet hingga Rp.100 juta per Oktober ini yang dilakukan sejak Mei 2026 lalu.
Di tengah kesibukannya mengelola pesanan, Naya tetap mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke luar negeri melalui jalur beasiswa. Australia menjadi salah satu negara tujuan yang ingin dicapainya.
Perjalanan Naya menjadi bagian dari program Siswa Inspiratif Al Ma’soem, yang digagas Humas Yayasan Al Ma’soem Bandung untuk mengangkat pengalaman siswa dan santri yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam kegiatan upacara dan diseminasi SMA Al Ma’soem, Senin (12/10/2026), Naya berbagi pengalaman kepada siswa kelas X dan XI. Ia menyampaikan bahwa cita-cita tidak cukup hanya dibayangkan, tetapi perlu disertai perencanaan dan keberanian untuk memulai.
“Mimpi saya adalah rencana. Saya sudah punya visi tentang masa depan saya jauh sebelum saya sampai di posisi ini. Saya selalu memiliki firasat bahwa akulah orangnya,” tutur Naya.
Belajar dari kegagalan
Ketertarikan Naya pada dunia usaha tumbuh sejak sekolah dasar. Ketika pandemi Covid-19 melanda, ia mencoba menjual barang digital di platform Roblox. Pasarnya tidak terbatas pada lingkungan sekitar, tetapi menjangkau pembeli dari berbagai negara.
Usaha tersebut sempat menghasilkan pendapatan hingga Rp 8 juta per bulan. Namun, ketika popularitas produk yang dijual menurun, Naya harus menghentikan bisnisnya dan mencari peluang baru.
Kesempatan itu datang dari hobi mengoleksi squishy, mainan berbahan spons lembut dengan beragam bentuk dan aroma. Dari kebiasaan membeli, ia melihat peluang untuk menjual kembali produk tersebut kepada teman-temannya.
Usaha yang semula sederhana kemudian dikembangkan menjadi bisnis impor squishy dari China. Naya mulai membangun sistem penjualan, menyusun strategi pertumbuhan, dan mengelola usaha secara lebih terencana.
“Saya punya pemikiran begini: Kenapa tidak membawa bisnis ini ke tingkat yang lebih tinggi? Saya buat aturan, sistem, strategi pertumbuhan, dan segalanya agar bisnis ini berjalan. Dan itu berhasil. Saya menghasilkan banyak keuntungan,” ungkapnya.
Melalui akun Instagram, Naya menawarkan berbagai jenis squishy, mulai dari bentuk makanan, karakter, hewan, hingga benda sehari-hari. Pesanan yang terus berjalan membuatnya harus menata administrasi dan pengemasan agar lebih teratur. Dalam menyiapkan paket, ia juga dibantu bibinya.
Perkembangan usaha itu menuntut Naya belajar mengelola bisnis sekaligus menghadapi konsekuensi dari keputusan yang diambilnya. Ia tidak hanya berhadapan dengan urusan penjualan, tetapi juga harus menjaga kepercayaan pembeli dan memastikan pesanan tertangani dengan baik.
Membagi waktu dan menata masa depan
Menjalankan usaha saat duduk di kelas XII-9 SMA Al Ma’soem ini bukan perkara mudah. Naya harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan pekerjaan sebagai importir. Sebagian besar urusan bisnis dikerjakan setelah pulang sekolah, sedangkan administrasi terkadang dicicil ketika waktu istirahat.
Tantangan semakin terasa ketika ia mulai mempersiapkan diri memasuki perguruan tinggi. Orangtuanya sempat memberikan pilihan agar ia berfokus pada pendidikan atau menghentikan bisnis untuk sementara waktu.
Naya pun dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana: mempertahankan usaha yang telah berkembang atau memusatkan perhatian pada pendidikan dan rencana masa depannya.
Ia berusaha mencari jalan agar kedua hal tersebut tetap berjalan beriringan.
“Yang penting dijalani dulu aja,” ujar Naya.
Menurut wali kelasnya, Ato Taopik, Naya juga tengah memperkuat pengalaman sosial sebagai bekal untuk mendaftar beasiswa ke luar negeri. Salah satu rencana yang dipersiapkannya adalah mengikuti program Studyxchange Angkatan 13 di Vietnam yang dikelola Global Youth Ambassador (GYA), komunitas yang bergerak dalam pengembangan pemuda dan pengabdian kepada masyarakat.
Pengalaman dalam kegiatan sosial diharapkan dapat melengkapi capaian akademiknya. Selain Australia, Kanada juga menjadi salah satu negara tujuan yang dipertimbangkannya untuk melanjutkan pendidikan.
Bagi Naya, pengalaman di luar negeri bukan semata-mata tentang memperoleh gelar pendidikan. Ia ingin memperluas wawasan, mengenal persoalan masyarakat dari perspektif yang berbeda, dan mempelajari cara memberikan manfaat yang lebih luas.
Cita-cita itu sejalan dengan keinginannya membangun organisasi nonpemerintah atau non-governmental organization (NGO) yang dapat membantu banyak orang.
Bisnis dan kepedulian sosial
Di lingkungan sekolah, kepedulian Naya tidak hanya diwujudkan melalui semangat berwirausaha. Ia juga berupaya memberikan bantuan finansial kepada siswa SMA Al Ma’soem yang menghadapi kendala ekonomi.
Inisiatif tersebut mendapat tanggapan positif dari Kepala SMA Al Ma’soem Ronny Andrias Lakani. Bantuan itu kemudian disalurkan kepada siswa yang dinilai berhak menerimanya.
Kepedulian tersebut menjadi salah satu alasan Naya diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman di hadapan adik-adik kelasnya dalam kegiatan diseminasi sekolah.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang siswa tidak selalu diukur dari nilai rapor atau pencapaian akademik. Kemampuan membangun usaha, mengatasi kegagalan, dan memperhatikan kebutuhan orang lain juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.
Naya mengaku bersyukur atas dukungan orangtua, guru, sekolah, serta teman-teman dekatnya yang menjadi pembeli pertama produk yang ia jual. Dukungan tersebut membantunya membangun kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha.
Ia pun berpesan kepada teman-teman seusianya agar tidak takut mencoba hal baru, termasuk memulai usaha sejak dini.
“Lebih baik mencoba lalu gagal daripada menyesal karena tidak pernah mencobanya, karena rasa menyesal akan menghantui kalian selamanya,” katanya.
Bagi Naya, kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Pengalaman menjual produk digital yang kemudian ditinggalkan justru membawanya menemukan peluang baru melalui bisnis squishy. Dari sana, ia belajar bahwa perubahan pasar menuntut keberanian untuk beradaptasi dan memulai kembali.
Kisahnya menjadi gambaran bahwa masa sekolah dapat menjadi ruang untuk mengembangkan beragam potensi. Di tengah tuntutan akademik dan persiapan menuju perguruan tinggi, keberanian mengambil peluang serta kepedulian terhadap sesama dapat tumbuh beriringan.
Program Siswa Inspiratif Al Ma’soem sendiri merupakan program kerja Humas Yayasan Al Ma’soem Bandung. Program ini mengangkat perjalanan siswa dan santri yang memberikan inspirasi serta dampak positif bagi lingkungan, sejalan dengan misi yayasan untuk menjadi “Menara Api dan Subjek Kebaikan bagi Lingkungan”.
Melalui program tersebut, prestasi siswa tidak hanya dilihat dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi, kepedulian, dan kebaikan yang mereka hadirkan bagi orang-orang di sekitarnya.





