Banner Iklan bjb

Dampak PMK, Omzet Penjualan Hewan Ternak di Cimanggung Sumedang Menurun Drastis

MENURUN: Peternak sekaligus Ketua HPDKI Kec Cimanggung Cecep Suhud saat meninjau peternakan domba, baru baru ini. (Foto: dok pribadi)

INISUMEDANG.COM – Dampak adanya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak terutama sapi dan domba. Berdampak pada menurunnya omzet penjualan hewan ternak.

Tak hanya omzet yang menurun tetapi harga jual menurun drastis. Meskipun di Cimanggung belum ditemukan adanya PMK pada hewan ternak, namun dampaknya cukup dirasakan peternak hewan.

Cecep Suhud misalnya, peternak hewan asal Kecamatan Cimanggung ini mengaku terkena dampak efek PMK ini. Biasanya menjelang Idul Adha, yang memesan hewan potong banyak, sekarang bahkan tidak ada sama sekali. Menurutnya, efek pemberitaan di media massa dan kasus PMK yang terjadi di beberapa daerah seperti Garut dan Cianjur.

“Biasanya menjelang Idul Adha atau selama idul adha itu laku 30 ekor hewan ternak. Sekarang kurun waktu 3 minggu kebelakang, sejak adanya kasus PMK omzet menurun bahkan tidak ada orderan sama sekali”. Kata pria yang juga ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kecamatan Cimanggung ini.

Menurut Cecep, berdasarkan pemantauan dirinya, banyak rekan rekan peternak domba dan sapi yang rela menjual hewannya dengan harga murah. Jika sebelum ada PMK harga sapi rata rata antara Rp25 juta sampai Rp60 juta, sekarang paling bisa laku terjual antara Rp15 sampai Rp50 jutaan.

“Termasuk harga domba juga yang rata rata bisa laku Rp2.5 juta sampai Rp4 juta, sekarang paling laku Rp2 sampai Rp3 juta per ekor. Itu juga hampir tidak ada transaksi karena tidak ada yang order,” ujarnya.

Adanya Jaminan Pemerintah Bahwa Hewan Ternak di Indonesia Terbebas Virus PMK

Cecep mewakili peternak domba dan sapi berharap. Wabah penyakit PMK pada Hewan ternak segera hilang karena berdampak pada peternak dan penjual hewan ternak. Apalagi menjelang lebaran idul adha yang tinggal 2 bulan lagi. Yang tentunya jika sudah selesai masa inkubasi virusnya maka penjualan akan kembali normal.

“Termasuk kalau bisa adanya pemeriksaan dari Dinas terkait semisal penyemprotan disinsfektan, atau pemusnahan barang yang terkontaminasi virus PMK. Petani berharap adanya jaminan dari pemerintah bahwa hewan ternak di Indonesia terbebas dari virus PMK,” ujarnya.

Seperti diketahui, penyakit mulut dan kuku yang merupakan wabah virus pada hewan ternak ruminansia. Wabah ini menyebabkan penyakit viral yang sangat menular dan menyerang semua hewan berkuku belah/genap seperti sapi, kerbau, domba, kambing, rusa, unta, dan termasuk hewan liar seperti gajah, antelope, bison, menjangan, dan jerapah.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) juga dikenal sebagai Foot and Mouth Disease (FMD). Jenis penyakit ini disebabkan dari virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, genus Apthovirus yakni Aphtaee epizootecae.

Menurut data di Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jabar, masa inkubasi dari penyakit ini berjarak antara 1-14 hari. Yakni masa sejak hewan tertular penyakit hingga timbul gejala penyakit Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan dan bertahan hidup pada tulang, kelenjar, susu, serta produk susu.

Angka kesakitan ini bisa mencapai 100% dan angka kematian tinggi ada pada hewan muda atau anak-anak.

“Tingkat penularan penyakit mulut dan kuku (pmk) cukup tinggi, tetapi tingkat kematian hanya 1-5%.  Sehingga jika ditemukan ternak terlihat lemah, lesu, kaki pincang, air liur berlebihan, tidak mau makan, dan mulut melepuh”. Ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jabar, Jafar Ismail seperti dikutip website DKPP Provinsi Jabar.

Dampak Penyakit PMK pada Sapi

Menurut Jafar, dampak penyakit PMK pada Hewan sapi diantaranya; Terdapat demam (pyrexia) hingga mencapai 41°C dan menggigil, Mengalami anorexia (tidak nafsu makan), Penurunan produksi susu yang drastis pada sapi perah untuk 2-3 hari, Keluar air liur berlebihan (hipersativasi), Saliva terlihat menggantung, air liur berbusa di lantai kandang, Pembengkakan kelenjar submandibular, Hewan lebih sering berbaring, Luka pada kuku dan kukunya lepas, Menggeretakan gigi, menggosokkan mulut, leleran mulut, suka menendangkan kaki.

“Efek ini disebabkan karena vesikula (lepuhan) pada membrane mukosa hidung dan bukal, lidah, nostril, moncong, bibir, puting, ambing, kelenjar susu, ujung kuku, dan sela antar kuku,” ujarnya.

Lalu Terjadi komplikasi berupa erosi di lidah dan superinfeksi dari lesi, mastitis dan penurunan produksi susu permanen, Mengalami myocarditis dan abotus kematian pada hewan muda, Kehilangan berat badan permanen, kehilangan kontrol panas.

Kemudian, efek pada domba: Lesu kurang terlihat, atau lesu pada kaki bisa juga tidak terlihat, Lesi / lepuh pada sekitar gigi domba, Kematian pada hewan muda, dan Keluar air liur berlebihan (hipersativasi).