Banner Iklan bjb

Baru Tahu, Ini Asal Muasal Nama Jatinangor yang Sekarang jadi Kawasan Pendidikan

Menara Loji Jatinangor
Menara Loji sebagai simbol sejarah Jatinangor

INISUMEDANG.COM- Siapa yang tidak mengenal Kecamatan Jatinangor, salah satu kecamatan yang berada paling barat pusat kota Kabupaten Sumedang ini menjadi primadona bagi investor dan mahasiswa. Betapa tidak, sejak dialihfungsikan jadi Kawasan Pendidikan sejak 1980 ini Kecamatan Jatinangor berkembang pesat layaknya kota metropolitan di ibu kota.

Namun, siapa yang tahu asal muasal atau silsilah nama Jatinangor? Padahal, pada mulanya kecamatan ini bernama kecamatan Cikeruh sebelum dimekarkan menjadi dua kecamatan dengan Cimanggung.

Menurut Tokoh masyarakat Jatinangor yang juga mantan Anggota DPRD Sumedang dari Partai Golkar periode 1999-2004 Ismet Suparmat, nama Jatinangor bisa diambil dari nama pohon Jati putih yang banyak tersebar di kawasan Kiarapayung sebelum dibabat habis menjadi kawasan pendidikan. Sedangkan nama Nangor bisa dari kata ‘Cangor’ belum masak atau ‘ngora’ (muda, red). Sehingga jika digabungkan Jatinangor berarti pohon jati muda.

Namun, menurut Ismet, sebetulnya tanaman keras yang mendominasi di Jatinangor itu adalah pohon karet dan teh. Namun, mungkin sebagian kecil ada Pohon jati. Meskipun masyarakat awam mengklaim jika semua pohon yang namanya pohon keras itu Jati.

Sementara itu, Kasi Pemerintahan Kecamatan Jatinangor, Endang Rohmayudi mengatakan nama Jatinangor itu diambil dari kata pohon Jati, sedangkan nangor itu dari kata nangoh atau nagog atau menghadap ke bawah. Berada di atas makam sesepuh Jatinangor bernama Embah Nangoh yang sekarang berlokasi di belakang kampus IKOPIN.

Menurut Endang sebetulnya kecamatan Jatinangor sudah lahir tahun 1935 sebelum Indonesia merdeka. Sehingga jika ditambahkan usianya dengan sekarang, berarti kecamatan Jatinangor itu sudah berusia 86 tahun. Meskipun nama Jatinangor berubah dari kecamatan Cikeruh tahun 2000.

“Jadi memang Jatinangor itu sudah tua, sebelum merdeka sudah ada pemerintah kecamatan Nya tahun 1935 dengan nama Camatnya Hasan Nata Permana sampai 1939. Kemudian, diganti oleh Gasik tahun 1939-1942. Diganti lagi dengan Tanu Miharja masa jabatan 1942-1945, masa kemerdekaan diganti oleh Djasmedi 1945-1950, kemudian Rd Enih 1950-1956, AS Kusnadi 1956-1960, Moch Musa 1960-1963, Moch Engkun 1963-1964, Aan Kartadinata 1964-1966, Nata Sumana 1966- kemudian E. Gandjar Putra 1966-1969,” ujarnya.