Asal Usul Berdirinya Sumedang larang dan Sumedang Pada Masa Pemerintahan Belanda

  • Bagikan
Raden Suriadiwangsa
Gambar : Foto Sampul Buku Penelusuran Arsip Sejarah pemerintah Sumedang, Masa Pemerintahan Belanda Tahun 1800 - 1942

Bagian 1

Pada akhir Abad 14 sebagai salah satu upaya pengembangan wilayah kekuasaan, Raja Galuh yang berkuasa waktu itu menugaskan salah satu kerabatnya untuk berangkat kearah utara mencari dan membuka lahan pertanian baru bersama beberapa kepala keluarga.

Perjalanan mereka sampailah disuatu daerah di Tatar Sunda bagian tengah yang tidak diketahui apa sudah ada penduduknya atau belum sama sekali dan langsung membuka lahan pertanian, komunitas penduduk tersebut kemudian berkembang dan membentuk pemerintahan setingkat kerajaan kecil atau bawahan yang bernama TEMBONG AGUNG (artinya: terlihat bagus, indah mulia), tepatnya di Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang sekarang dengan raja pertama yang tercatat dalam sejarah Sumedang bernama PRABU AJI PUTIH atau PRABU LEMBU PETENG AJI, kerajaan kecil tersebut berinduk ke Kerajaan Galuh sampai dengan berdirinya Kerajaan Pakuan Pajajaran pindah berinduk ke kerajaan besar tersebut.

Selanjutnya dari PRABU AJI PUTIH terjadi pewarisan kekuasaan langsung kepada putranya yang bernama PRABU TUNGTANG-BUANA yang kelak dikenal dengan nama PRABU TAJI MALELA, untuk sebagian ahli sejarah Sumedang beliau dianggap sebagai peletak dasar berdirinya Kerajaan Sumedang Larang, ada yang berpendapat nama Sumedang berasal dari ucapan beliu yang terkenal yaitu INSUN MEDAL INSUN MADANGAN (artinya : aku dilahirkan, aku menerangi) dari insun madangan inilah diperkirakan terjadi perubahan pengucapan dan dianggap cikal bakal nama SUMEDANG ( InSUN MADANGan ) karena tidak berapa lama kemudian beliau merubah nama kerajaannya menjadi Kerajan Sumedang Larang (Larang artinya unggul, tangguh, kuat).

Beliau menyerahkan kekuasaan mula-mula kepada putranya yang bernama PRABU LEMBU AGUNG namun tidak berapa lama kemudian menjadi resi atau pendeta, maka tampuk pimpinan selanjutnya diserahkan kepada putra yang lain bernama PRABU GAJAH AGUNG, yang memindahkan ibu kota ke kampung Ciguling Desa Pasanggrahan Kecamatan Sumedang Selatan, tidak ada keterangan alasan pemindahan tersebut, apakah karena faktor keamanan ataukah kebiasaan ladang berpindah.

Ini Baca Juga : Asal Usul Berdirinya Sumedang larang dan Sumedang Pada Masa Pemerintahan Belanda

Salah satu benda peninggalan PRABU GAJAH AGUNG adalah keris Ki Dukun yang sarungnya terbuat dari emas murni, sekarang disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.

Pada pewarisan berikutnya kepada PRABU PAGULINGAN dilanjutkan pewarisan kepada PRABU PATUAKAN yang kemudian digantikan oleh putrinya NYI MAS RATU PATUAKAN, tidak ada keterangan apakah beliau bertindak sebagai pemegang kekuasaan sesungguhnya atau pendamping suami atau Raja.

Dari NYI MAS RATU PATUAKAN kemudian diwariskan kepada putrinya yaitu RATU PUCUK UMUN (NYAI MAS RATU INTEN DEWATA) yang dikemudian hari diperistri oleh PANGERAN KUSUMADINATA atau PANGERAN SANTRI dan dikaruniai 6 orang anak.

Walaupun RATU PUCUK UMUN adalah keturunan langsung sekaligus pewaris Kerajaan Sumedang Larang, namun karena tradisi yang berlaku atau beberapa pertimbangan maka yang dangkat sebagai Raja Sumedang Larang berikutnya adalah sang suami yang bernama PANGERAN KUSUMADINATA atau  PANGERAN SANTRI keturunan Cirebon, memerintah Sumedang dari tahun 1530 sampai 1578, terjadi lagi pemindahan ibu kota ke Kutamaya Desa Padasuka Kecamatan Sumedang Selatan.

Dalam silsilah keluarga Sumedang PANGERAN KUSUMADINATA atau  PANGERAN SANTRI selain dianggap sebagai raja daerah atau mandala juga mendapat gelar jabatan NALENDRA dari Kerajan Pakuan Pajajaran, beliau dijadikan titik tolak urutan para keturunan Sumedang serta diposisikan sebagai Bupati pertama walaupun istilah Bupati belum dikenal pada waktu itu.

  • Bagikan