Angka Stunting di Sumedang Meningkat 40,6 Persen Selama Tahun 2021

  • Bagikan

INISUMEDANG.COM – Angka stunting di 13 Desa di Kabupaten Sumedang meningkat 40,6 persen selama tahun 2021.

Penyebabnya adalah pandemi Covid-19 yang menyebabkan kegiatan pelayanan gizi masyarakat tertunda dan terbatas.

Demikian disampaikan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang Uyu Wahyudin didampingi Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Nia Sukaeni dalam Rapat Kordinasi I Publikasi Data Stunting yang dilaksanakan di Sapphire City Park Sumedang Jl. Dr. Bambang – Lingkar Sumedang – Wado, Bojong Kaler Desa Rancamulya Kecamatan Sumedang Utara, Jum’at (19/11/2021).

“Hal yang perlu perhatian selanjutnya adalah bahwa kondisi stunting dapat menetap pada balita jika melewati masa usia dua tahun kehidupannya,” kata Uyu.

Dikatakannya, jumlah anak dibawah usia dua tahun (Baduta) stunting pada 2021 meningkat 40,6 persen di 13 Desa se-kabupaten Sumedang.

“Terdapat 11 Kecamatan yang menunjukan peningkatan jumlah baduta stunting yaitu Kacamatan Cimanggung, Sukasari, Rancakalong, Sumedang Utara, Cisitu, Darmaraja, Cibugel, Wado, Jatinunggal, Jatigede, dan Kecamatan Tomo. Sedangkan pada 32 Desa fokus prioritas intervensi stunting Kabupaten Sumedang,” ujar Uyu.

Lebih lanjut Uyu mengatakan, jika prioritas untuk 1000 keluarga HPK konvergensi dan intervensi stunting terintegrasi di beberapa daerah di Sumedang belum mampu mencegah munculnya kasus baru stunting.

“Konvergensi dan intervensi stunting terintegrasi yang diprioritaskan terhadap keluarga 1000 HPK kecamatan dan desa-desa tersebut nampak belum mampu mencegah kasus baru stunting,” tuturnya.

Uyu menambahkan, sembilan desa atau 28,1 persen menjadi prioritas intervensi stunting pada kelompok usia 24-59 tahun.

“Adanya peningkatan stunting pada kelompok usia 24-59 tahun di 9 desa fokus prioritas intervensi stunting 28,1 persen juga dapat dimaknai bahwa masih ada baduta yang tidak selamat dari stunting,” tandasnya.

  • Bagikan