Unik! Nama Desa di Sumedang Ini Diambil dari Nama Sejenis Ikan, Begini Kisah Dibaliknya

Desa Cijeler

INISUMEDANG.COM – Nama Desa ini, mungkin sudah tidak asing lagi didengar oleh warga Sumedang. Desa Cijeler, Desa ini berada di Wilayah Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang.

Seperti dikisahkan oleh Sekertaris Desa Cijeler Adri Setiawan bahwa. Nama Cijeler memiliki kisah asal usul yang menarik untuk disimak dari awal mula terbentuknya. Sebelum diberi nama Cijeler, saat itu wilayah tersebut masih berupa hutan, kampung belum meluas, dan jumlah penduduk yang masih sangat terbatas dan belum memiliki nama.

Kemudian, sambung Andri, waktu itu para warga memikirkan nama apa yang pantas untuk desa tersebut.

“Karena di desa itu banyak sekali terdapat ikan Jeler. Maka warga menamakannya Cijeler,” ujar Andri.

Andri menyebutkan, jika nama Cijeler berasal dari kata “Ci” yang artinya air dan “jeler” artinya ikan Jeler. Yaitu ikan kecil bertubuh panjang yang hidup di air bening yang deras mengalir dari mata air Cihaur sampai bermuara di sungai Ciderma. Sungai tersebut diberi nama dan di kenal dengan nama Sungai Cijeler.

“Sejak itulah hingga sekarang nama Desa ini adalah Desa Cijeler,” tuturnya.

Lebih lanjut Andri menuturkan, sejak diberi nama Desa Cijeler. Sejumlah pupuhu atau nama-nama para pemimpin Desa Cijeler, tercatat secara berurutan dari masa ke masa.

Adapun nama pupuhu yang pernah memimpin Desa Cijeler yaitu, Rd. Suranata II Patinggi (Kades sekarang), Rd. Djajamanggala, Rd. Astawidjaja (Kuwu Kasep), Rd. Yudamanggala, Rd. Madjadinata, Rd. Djajadiria (Kuwu Bintang) Gelar Kuwu Bintang Tahun 1937 menjabat Kepala Desa mulai 1897-1941 masa Jabatan 44 Tahun, Rd. Natadimadja Kepala Desa 1941-1954
Masa Jabatan 13 Tahun, Sudira Tahun 1954 -1966 Masa Jabatan 12 Tahun, Sartani Kepala Desa 1966 – 1983 Masa Jabatan 17 Tahun, Iding Sugaendi 1983 -1985 Masa Jabatan 2 Tahun, Engkim Tanupraja 1985 -1993 Masa Jabatan 8 tahun, Aan Danupraja Sudirawan 1993 – 2007 Masa Jabatan 14 Tahun, Rd. Harun 2007- 2013 Masa Jabatan 6 Tahun 13, Pepen Apandi 2013-2019 Masa Jabatan 6 Tahun,

Hasil Musyawarah Menyepakati Bahwa Hari Jadi Desa Cijeler Tahun 1897

Berdasarkan paparan legenda sebagaimana tersebut diatas, maka pemerintah desa
telah bermusyawarah dengan BPD, Lembaga Kemasyarakatan Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pendidikan dan tokoh adat, musyawarah dan menyepakati bahwa Hari Jadi Desa Cijeler ditetapkan pada tahun 1897, yaitu pada saat pemerintahan desa dipimpin oleh Rd. Djajadiria (Kuwu Bintang).

“Penetapan hari jadi tersebut, tidak menghilangkan sama sekali pucuk pimpinan atau para kuwu sebelumnya sebagai perintis, pendiri terwujudnya Desa Cijeler yang Genah, Merenah, Tumaninah Tur Betah, dan pemerintah desa bersama masyarakat dapat memperingati melalui Milang Kala Desa Cijeler setiap setahun sekali,” papar Andri.

Konon katanya, lanjut Andri lagi, di Cijeler ada satu nama buah-buahan yang aroma dan rasanya cukup menggiurkan yaitu Buah Kaweni Cijeler.

Kemunculan nama buah Kaweni tersebut tidak terlepas dari nama Desa dan nama Kepala Desa pada saat itu Rd. Djajadiria (Kuwu Bintang) beliau memerintah mulai tahun 1897-1941.

Kemudian diangkat kembali kepermukaan pada masa pemerintahan Rd. Natadimadja yang memimpin sejak Tahun 1941 hingga 1954.

“Menurut cerita buah kaweni memang sebelum tahun 1941 sudah ada. Namun tanaman ini belum dibudidayakan, dan pada saat Kepala Desa Cijeler Rd Natadimadja memimpin, maka buah kaweni mulai dibudidayakan bersama komoditas buah-buahan lainnya,” ucapnya.

Ternyata buah Kaweni membawa keberuntungan, karena produksinya cukup melimpah. Sehingga pemasaran terus meluas baik didalam Desa sendiri maupun keluar Desa, seperti dalam wilayah Kabupaten Sumedang, Bandung, termasuk ke Ibu Kota Jakarta. Bahkan pada saat Presiden Pertama Republik Indonesia Bapak Ir. Soekarno pernah meminta untuk dikirim.

Dengan buah Kaweni tersebut, nama Desa Cijeler menjadi cukup terkenal karena Kaweni Cijeler, hal ini kita patut bersyukur atas keberhasilan pada waktu itu, dan buah Kaweni Cijeler yang dipasarkan melalui pedagang asongan di terminal Cicaheum, Kebon Kelapa berangsur-angsur dari musim ke musim.

“Namun, sejak tahun 1980 buah Kaweni mulai menghilang tidak terdengar lagi Kaweni Cijeler,” paparnya.