Banner Iklan bjb

Menelisik Kitab Nabawadatala di Sumedang yang Menjadi Pedoman Para Raja

Kitab Nabawadatala
Gusmus Raksa Jagad

INISUMEDANG.COM – Kitab Nabawadatala merupakan kitab yang tercipta dari penggabungan dua kitab. Kitab ini disebutkan menjadi pedoman Raja raja, karena didalam kitab Nabawadatala ada tiga ilmu yang luar biasa.

Sebenarnya, Nabawadatala itu berawal dari penggalan kata. Nabawadatala itu kalau dijelaskan bahwa “Na” artinya Nanjeurkeun (Menegakan), “Ba” artinya Batara (ilmu Katunggalan atau ilmu yang berporos kepada sang Maha Pencipta. “Wa” artinya Wangsit atau petunjuk hidup, kemudian “Da” artinya Dangiang Agung. “Ta” artinya Tangkal Satia Tunggal Wibawa atau Kesetiaan yang mendarah daging, lalu “La” artinya Lara Kapeugat.

Jadi Nabawadatala itu adalah Nanjeurkeun Ilmu Katunggalan atau Menegakan ilmu yang berporos kepada sang maha pencipta yang isinya itu adalah petunjuk hidup. Untuk mempunyai wibawa besar dalam kehidupan, tetapi syaratnya itu adalah kesetiaan yang mendarah daging terhadap ilmu ini. Maka ketika itu sudah tercipta selanjutnya Lara Kapeugat yang artinya segala penghalang hidup akan terputus.

Perlu diketahui, Nabawadatala ini merupakan sebuah kitab hasil dari gabungan Sapta Daya Ing Raga Sampurna. Kemudian bergabung dengan kitab Hayatul Fatah yang asalnya itu Yasrib, yang mana kitab Hayatul Fatah itu dibawakan oleh Syeh Maulana Malik Ibrahim. Lalu digabungkan dengan kitab Sapta Daya Ing Raga Sampurna dari Resi Brata Dewa. Dari kedua kitab tersebut jadilah kitab yang bernama Kitab Nabawadatala.

Tiga Ilmu Sebagai Pedoman Raja

Kitab Nabawadatala itu berisi tiga ketentuan atau tiga ilmu. Yang pertama Ilmu Katunggalan atau bagaiamana manusia mempelajari tetap terkait dengan sang maha pencipta. Yang kedua Ilmu Nata Diri Nata Nagara artinya bagaimana menata diri ini supaya kita bisa menatanya dengan baik. Bisa menata diri juga akan bisa menata Negara, dan yang ketiga Ilmu Raksa Jasad.

Saat ini, yang kita pelajari adalah Ilmu Raksa Jasad, dari ketentuan tersebut Ilmu Katunggalan, Ilmu Nata Diri Nata Nagara, dan Ilmu Raksa Jasad menjadi dalam satu kitab yakni Kitab Nabawadatala.

Kitab Nabawadatala kemudian dikembangkan di Sunda Sembawa Jayagiri atau daerah Bekasi kalau sekarang, lalu mejadi pedoman di Kerajaan Galuh, kemudian menjadi pedoman lagi di Kerajaan Tembong Agung lebih dikenal dengan Buk Cipaku (Babad Darmaraja). Setelah itu turun temurun dari generasi ke generasi sampailah ke satu titik yaitu Eyang Mekah.

Raksa Jasad ini atau Nabawadatala ini diberikan kepada tabib kerajaan Eyang Mekah yang bernama Eyang Eleng oleh Eyang Mekah karena kedekatan antara keduanya. Dan Setelah dari Eyang Eleng lalu dititipkan kembali ke Ki Madharo setelah itu dititipkan kembali ke pa Sutiarna.

Selanjutnya, dari pa Sutiarna dikembangkan dan diperdalam lagi kitab Nabawadatala itu. Sehingga Kitab Nabawadatala didalamnya Raksa Jasad tersebut menjadi Gusmus Raksa Jasad, Agus Muslim (Gusmus) Raksa Jasad.

Agus Muslim atau akrab disapa Gusmus Raksa Jagad. Yang tinggal di Jalan Pagar Betis Desa Cipancar Kecamatan Sumedang Selatan Kabupatén Sumedang. Adalah salah satu tokoh pengobatan alternatif/terapi yang sudah dikenal dengan pengobatannya.

Artikel ini dilansir dari YouTube GusmusNabawadatala01 setahun yang lalu.