Korban Jatigede, Desa Cisurat Disebut Desa Termiskin se-Jawa Barat

  • Bagikan

INISUMEDANG.COMDesa Cisurat Kecamatan Wado Kabupaten Sumedang, disebut-sebut desa yang paling miskin di Jawa Barat. Predikat miskin tersebut disematkan, setelah desa Cisurat harus pindah dari desa lamanya akibat tergenang Waduk Jatigede beberapa tahun yang lalu.

Menurut warga, miskinnya Desa Cisurat yaitu jadi korban pembangunan Waduk Jatigede yang hingga kini tidak jelas ganti-ruginya. Karena selain harus kehilangan aset kantor desa, hingga kini ganti ruginya atas Desa juga tidak ada kejelasannya.

“Kasihan Desa Cisurat, nama saja desa, tapi tidak memiliki kantor desa. Adapun yang saat ditempati, merupakan rumah warga yang disewa dengan kondisi yang tidak representatif dan tak layak disebut kantor pelayanan publik,” kata Deni warga Desa Cisurat, Kamis (22/04/2021) kemarin.

Sementara itu, ketika hendak ditemui di kantor Desa Cisurat, Jumat (21/04/2021). Kepala Desa Cisurat Daryumah, tampak sedang duduk termenung di ruangan sempit yang pengap dan gelap.

“Termiskin di Jawa Barat?, kemungkinan Desa Cisurat ini termiskin di Indonesia. Sebab di jaman modern ini, tidak ada desa yang kondisinya seperti Desa Cisurat, meskipun rumah warga ini sudah milik desa,” kata kades seolah kurang setuju bila disebut termiskin di Jawa Barat.

Apa mau dikata, kata Daryumah, kami harus bertahan di ruangan kumuh, demi amanah masyarakat, serta berjalannya roda pemerintahan desa.

“Hanya ada satu harapan yaitu keajaiban dunia hingga bisa menggapai mimpi memiliki gedung kantor desa seperti halnya desa lain di Sumedang,” keluhnya.

Daryumah menuturkan, soal simpang-siurnya informasi ganti-rugi aset desa Cisurat oleh pihak Satker Jatigede di tahun 1985-1986 saat kepemimpinan Kades Memet (alm). Waktu itu informasinya dapat Rp 22 juta hanya untuk ganti-rugi aset tanah saja yang masuk ke aset Pemda Sumedang.

“Namun setelah Kades Memet berganti oleh Kades Tatang Sujana, uang Rp 22 juta itu masuk giro. Sementara laporan pada serah-terima ke saya tahun pada tahun 2006 lalu, ada uang tunai Rp 5 juta yang juga habis dipakai biaya gugatan Ke Kejati berdasarkan kesepakatan BPD waktu itu,” tuturnya.

Daryumah menambahkan, dulu pernah ada janji Satker Jatigede bahwa jika kantor desa yang hilang direndam Waduk Jatigede, maka akan diganti dengan kantor desa yang baru. Namun sampai saat ini, janji itu tidak terealisasi, atau kemungkinan ada mis-komunikasi akibat adanya pergantian kepemimpinan (Bupati Sumedang).

“Saat ini kami sedikit lega karena ada titik harapan kebijakan pemerintah (Bupati), bahwa kantor desa ini akan dibangun secara bertahap dan masuk anggaran Perubahan APBD Sumedang tahun 2021,” tandasnya.

  • Bagikan