BOLA, IniSumedang.Com – Como meraih kemenangan penting saat bertandang ke markas Juventus dengan skor 2-0. Tim asuhan Cesc Fabregas tampil agresif sejak awal dan mengejutkan publik tuan rumah melalui gol cepat Mergim Vojvoda pada menit ke-11.
Juventus mencoba merespons, tetapi upaya mereka tak membuahkan hasil. Di babak kedua, Maxence Caqueret menggandakan keunggulan Como pada menit ke-61. Gol itu memastikan tiga poin berharga bagi klub yang kini terus menanjak performanya di Serie A.
Kemenangan ini terasa signifikan. Como mampu mengontrol ritme permainan dan memanfaatkan celah di lini belakang Juventus. Disiplin taktik dan efektivitas serangan balik menjadi pembeda.
Fabregas: “Juventus adalah Real Madrid-nya Italia”
Seusai pertandingan, Fabregas mengaku bangga atas capaian timnya. Ia tetap menaruh respek tinggi kepada Juventus, terlebih sejak ditangani Luciano Spalletti.
“Sejak kedatangan Spalletti, Juventus mengalami peningkatan luar biasa. Banyak orang hanya melihat hasil terakhir, tetapi mereka bermain sangat baik.”
“Bagi saya, Juventus adalah Real Madrid-nya Italia,” ujar Fabregas dikutip dari akun X jurnalis Italia, Nicolo Schira, Minggu (22/2/2026) dini hari WIB.
Pernyataan itu mencerminkan pandangan Fabregas terhadap status historis Juventus di Italia. Ia menilai kekalahan ini tidak mengubah posisi Juve sebagai salah satu raksasa sepak bola nasional.
Fabregas juga menyinggung sosok penting dalam perjalanan kariernya, Arsene Wenger.
“Wenger adalah guru saya, seperti ayah kedua,” ucap pelatih asal Spanyol tersebut.
Kemenangan Como semakin impresif karena diraih tanpa Nico Paz. Fabregas menyebut hasil ini sebagai sinyal positif bagi perkembangan timnya.
“Soal Como ke Liga Champions? Mungkin dua atau tiga tahun lagi saya bisa menjawabnya.”
“Satu setengah tahun lalu, kami masih bermain di Serie B. Kami harus tetap tenang,” ujarnya.
Spalletti Soroti Mentalitas Juventus
Di kubu tuan rumah, Spalletti tidak menutup mata terhadap performa timnya. Ia menilai masalah utama terletak pada aspek mental.
“Lawan utama kami adalah diri kami sendiri. Jika secara mental kami kembali solid, kami bisa bersaing dengan siapa pun.”
“Tapi jika terus seperti ini, sulit mengincar hasil apa pun,” ujar eks pelatih Napoli, Inter, dan Timnas Italia itu.
Spalletti menekankan tanggung jawab kolektif atas kekalahan tersebut. Ia juga menyinggung peran kiper Michele Di Gregorio dalam gol pertama.
“Dia bisa melakukan lebih baik di gol pertama, sama seperti kami tak seharusnya kehilangan bola dalam proses terjadinya serangan balik mereka. Semua harus tampil lebih baik,” katanya.
Menurut Spalletti, gol pembuka Como memengaruhi psikologis tim. Ia mencatat bahwa untuk ke-13 kalinya musim ini, Juventus kebobolan dari tembakan pertama lawan.
“Gol itu, mengubah segalanya. Kami kehilangan antusiasme, kepercayaan diri, dan kepribadian di lapangan. Ketika mental terganggu, sulit untuk bereaksi,” ucapnya.
Ujian Berat Lawan Galatasaray
Juventus kini dituntut segera bangkit, terutama menjelang laga leg kedua playoff Liga Champions melawan Galatasaray.
Kekalahan 5-2 pada leg pertama membuat tugas Juve berat. Mereka harus menang dengan selisih lebih dari tiga gol untuk memastikan tiket perempat final.
Hasil melawan Como menjadi alarm keras. Jika ingin menjaga peluang di Eropa, Juventus perlu memperbaiki mentalitas dan konsistensi permainan.
Sementara itu, Como menikmati momentum positif. Kemenangan atas Juventus mempertegas progres tim Fabregas. Meski masih realistis soal target jangka panjang, Como menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing melawan klub sebesar Juventus—yang oleh Fabregas disebut sebagai “Real Madrid-nya Italia.”





