P2TP2A Ungkap Kondisi Anak Korban Kekerasan di Sumedang

  • Bagikan
Susilawati saat ditetapkan sebagai tersangka di Polres Sumedang

INISUMEDANG.COM – Pusat Pelayan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sumedang, mengungkapkan kondisi anak korban kekerasan yang terjadi di berdasarkan laporan psikolog sudah mulai stabil.

Selain itu, P2TP2A juga memastikan memberikan pendampingan kepada R (5), bocah korban penyekapan dan kekerasan di Perumahan Angkrek Regency, Kelurahan Situ Kecamatan Sumedang Utara yang terjadi pada Rabu 5 Januari 2022 lalu.

“Pendampingan terhadap korban sudah dilakukan sejak terungkapnya kasus ini, dan pihaknya sudah mengirim psikolog untuk mendampingi korban. Hasilnya berdasarkan laporan psikolog, saat ini kondisi mulai stabil,” kata Wakil Ketua P2TP2A Kabupaten Sumedang, Retno Ernawati Jumat 7 Agustus 2022.

Retno juga memastikan, kondisi anak saat ini dalam keadaan baik baik saja dan memiliki keterampilan layaknya anak 5 tahun pada umumnya.

“Alhamdulillah saat diwawancara, dan diberikan keterampilan tertentu yang harus dimiliki anak usia 5 tahun, dia bisa melakukannya, seperti mewarnai dan juga mengenal huruf. Jadi kami memastikan anak dalam keadaan baik-baik saja,” ujarnya.

Retno mengungkapkan, anak tersebut sempat trauma pasca kejadian penyekapan oleh bibinya, tetapi pihaknya terus memantau perkembangannya, saat ini sang anak dalam kondisi ceria, lancar bicara, bisa bermain dan berkomunikasi dengan baik.

“Kami tiap hari memantau terus perkembangannya, kemudian ada evaluasi juga dari polres, seperti tim trauma healing. Bisa dibilang anak ini pintar, dia bisa bersosialisasi dengan anak lain yang dihadirkan, tidak bersembunyi,” ungkap Retno.

Namun yang harus diperhatikan ke depannya, lanjut Retno, adalah setelah kasus kekerasan anak ini diputus oleh pengadilan, serta ditentukan terdakwanya.

“Nanti setelah diputus di pengadilan kami akan berkonsentrasi. Karena anak ini harus diperhatikan psikologi dan kejiwaannya, pasca apa yang dialaminya,” tuturnya.

Retno menambahkan, posisi anak berada di rumah yang aman, dan harus dibatasi interaksinya dengan semua pihak. Dan dilakukan pendampingan bagi anak tersebut untuk melalui fase tersulitnya.

“Kami pastikan bakal mencari jalan terbaik untuk pendidikan dan pengasuhan anak, apakah akan dikembalikan ke keluarganya atau juga akan diambil alih oleh pemerintahan untuk ditempatkan di sebuah lembaga yang akan menjamin kehidupannya, dan juga untuk mengejar cita-citanya kelak,” kata Retno menegaskan.

  • Bagikan