Banner Iklan bjb

Cerita Karyawan Tinggal Di Mess Sendirian Ternyata Ditemani Oleh Sosok Berbaju Proyek Part 2

INISUMEDANG.COM – Pukul setengah dua belas malam itu Fadli memutuskan untuk tidur di kamarnya. Namun berkali-kali ia tidur, pikirannya melayang kemana-mana, resah dan gelisah. Ingin pergi namun tak tahu harus kemana, apalagi ia tak mengetahui area tersebut.

Ditengah kegelisahannya itu tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka juga disahuti langkah sepatu bot. Kali ini Fadli tak berani untuk keluar dan merasa ketakutan. Sehingga dirinya memilih untuk mengurung diri di kamar.

Ia pun semakin sadar suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Hingga terdengar bunyi gagang pintu yang seolah ingin membuka pintu kamarnya.

Suara gagang pintu yang terkunci namun terdengar seperti memaksa untuk membuka pintu. Sontak Fadli pun langsung terduduk ketika gagang pintu seolah ingin terbuka.

“Siapa ya,” tanya Fadli yang ketakutan dan bulu kuduknya berdiri dan seketika suasana mendadak hening.

Iman,” tiba-tiba sosok itu menyahut.

“Hah.. syukurlah ternyata orang,” kata Fadli yang merasa lega karena akhirnya ada penghuni mess lain yang datang.

Sosok Iman Berbaju Proyek Lengkap

Fadli pun segera membukakan pintu dan bergegas ke ruang tengah. terlihat sosok Iman yang sedang duduk di sofa namun dengan lampu yang mati namun menggunakan seragam (berbaju) proyek lengkap dengan sepatu safety.

“Eh malam Mas Iman. baru datang ya. saya karyawan baru disini, baru aja sampai sore tadi,” ucap Iman yang berbasa-basi.

“Iya enggak apa-apa. Istirahat aja dulu,” jawab Iman.

Iman kemudian berdiri dan berjalan ke ruang belakang. Fadli yang sedikit terheran juga kembali ke kamarnya.

Ia kini tak lagi cemas karena saat ini ada penghuni lain selain dirinya.

Pukul setengah lima pagi, Fadli terbangun dan akan menunaikan shalat subuh. disaat Fadli akan mengambil wudhu, Iman sudah duduk di sofa ruang tengah yang menghadap ke depan rumah.

“Wah mas Iman udah berangkat kerja. pagi-pagi banget mas,” kata Fadli yang sedikit kaget.

Terlihat raut muka Iman hanya menoleh dan tersenyum.

Begitu selesai mengambil wudhu Iman sudah tidak ada di sofa tadi. Benar-benar waktu yang sangat pagi untuk berangkat kerja.

Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, Fadli sudah bersiap berangkat bekerja dan sempat menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok.

Disaat itulah satu per satu penghuni mess berdatangan. penghuni pertama yang ia temui adalah Ridwan orang yang sempat menelepon Fadli sebelum memutuskan berangkat ke pabrik.

Mereka pun berbincang di teras rumah dan diketahui Ridwan adalah orang Bandung sehingga setiap Jumat sore Ridwan selalu pergi ke Bandung. jabatannya adalah supervisor keuangan.

“Gimana mas bermalam di mess sendirian betah enggak. Enak kan suasananya,” tanya Ridwan kepada Fadli.

“Saya enggak sendirian kok kang,” jawab Fadli.

“ah bisa aja mas ini,” kata Ridwan.

Terkejut Dengan Jawaban Fadli

Sayangnya waktu kerja menghentikan perbincangan mereka. Padahal Fadli berniat untuk menceritakan pengalamannya semalam selama pertama tinggal di mess pabrik.

Di hari pertama ia bekerja, Fadli ditemani oleh beberapa rekan kerjanya. salah satunya Hendra, yang bekerja menyangkut pekerjaan mulai dari produksi sampai selesai, sampai para pekerja memasuki jam makan siang.

“Gimana Pak tidur semalam, betah kan suasananya,” tanya salah seorang rekan kerja Fadli.

“Enak kok. Awalnya enggak bisa tidur, sepi banget soalnya. Untung aja Pak Iman dateng. Jadi ya ada teman semalam,” jawab Fadli.

“Iman?. pak Iman yang datang tengah malam?,” sahut rekan kerjanya yang terkejut dengan jawaban Fadli.

“Emang kenapa. Pak Iman rumahnya dimana?,” tanya Fadli yang mulai terheran.

“Emm..Pak Iman rumahnya di Bandung Pak. Dulunya dia manager accounting,” jawabnya.

“Dulunya?. Memang sekarang di bagian mana Pak Iman,” kata Fadli yang semakin terheran.

“Emm..masih Pak. Masih di posisi manajer,” jawab Hendra yang tampak agak panik dan terpaksa waktu santai mereka terpotong oleh waktu istirahat yang telah usai.

Singkat cerita, pukul 8 malam para penghuni mess sedang berkumpul di ruang tengah. Ada Ridwan, Dendi, Dedi, Asep, Hendra dan Agung.

Ditengah kehangatan mereka, Fadli teringat sosok Iman yang sempat ia ceritakan kepada Hendra. Karena sejak tadi tidak terlihat Pak Iman ikut kumpul.

Sontak ketika Fadli menanyakan Pak Iman, semua temannya seketika terdiam bagaimana seorang karyawan baru seperti Fadli bisa mengenali Pak Iman yang diketahui merupakan senior.

“Semalam saya ketemu Pak Iman. Jam 12 malam dia datang. Baru datang dari Bandung katanya,” kata Fadli.

“Oh tadi langsung balik ke Bandung. Ada urusan mendadak katanya,” sahut Asep.

Sabtu Sore Sebagian Pekerja Sudah Mengemas Barang Untuk Pulang

Waktu terus berlalu dan tak terasa Fadli sudah satu minggu bekerja. Kini ia mulai terbiasa dengan pekerjaannya.

Sebagian pekerja pada hari Jumat telah bersiap untuk pulang. Namun sebagian juga tetap bekerja karena proses produksi tetap berjalan meskipun hanya sebagian kecil.

Disaat itulah Fadli termasuk salah satu yang harus tetap bekerja.

Sabtu sore penghuni mess yang tersisa masih terlihat berkumpul dan sebagian sudah mengemas barang untuk pulang ke daerahnya masing-masing. Karena Fadli tinggal di Jakarta dan cukup jauh, ia memilih tetap tinggal di mess.

Sesaat kemudian Ridwan datang dan mengajaknya untuk berbicara. Dari raut wajahnya pun tampak serius.

“Jadi gini mas waktu pertama kali nginep di mess ini Mas Fadli cerita ada Pak Iman. Ini saya mau cerita dikit ya, moga Mas Fadli gak ketakutan,” kata Ridwan.

Fadli pun semakin penasaran, apalagi Pak Iman sudah tidak terlihat lagi.

“Pak Iman itu bener dulunya manager accounting disini. Rumahnya di Bandung dan dia sering tinggal di mess yang rumah itu,”

Shock Mendengar Sosok Iman Sudah Meninggal Kecelakaan

“Namun sekitar 6 bulan lalu ketika dijalan saat mau kesini dari Bandung, Pak Iman kecelakaan motor. Dia meninggal di tempat kejadian,”

“Dulu aku dan Asep juga jarang pulang ke rumah, lebih banyak tinggal di mess ini. Tapi karena banyak kejadian serem. Para penghuni disini memutuskan untuk pulang setiap Sabtu-Minggu,”

“Kami juga pernah lihat Pak Iman datang ke mess ini tengah malam,” kata Ridwan lagi dengan nada suara yang berbisik-bisik.

Fadli yang mendengar cerita dari Ridwan seketika langsung shock, tak tahu harus berbuat apa. Sialnya Fadli harus balik ke mess itu seorang diri.

Apa yang diceritakan oleh Ridwan membuat Fadli semakin was-was. Apalagi bayangan tentang Pak Iman terus berkecamuk dalam pikirannya.

Meski sudah memikirkan hal-hal positif, namun ia tak bisa mengelak bahwa ia memikirkan sosok Pak Iman.

Malam itu pun semua lampu di mess ia nyalakan tentunya agar suasana tidak begitu mencekam.

hari semakin menjelang tengah malam dan Fadli sudah mengurung diri di kamarnya.

Malam demi malam ia lewati dengan penuh rasa was-was. Untungnya tidak ada peristiwa aneh yang terjadi sampai subuh hari

Fadli pun merasa lega hari Minggu Fadli lewati hanya dengan menonton televisi dan mencoba santai dengan suasana yang sejuk.

Kini tinggal satu malam ia lewati sebelum esok pagi merasakan kembali ramai dengan kedatangan rekan kerjanya

Sepi dan Asing

Dan ketika matahari mulai tenggelam mulai muncul perasaan aneh. Dalam dirinya kembali ia merasakan sepi dan asing ke tempat tersebut.

Hari dan malam itu kembali semua lampu dinyalakan termasuk televisi yang dibiarkan menyala. Bahkan ketika semakin malam ini sengaja membuka pintu depan mengurangi kengerian

Namun sepertinya ia salah, beberapa kali ia merasakan sesuatu yang memperhatikan dari luar. Ketika ditengok semua nampak kosong dan sepi di sudut mata seolah melihat basa seorang sedang berjalan. Dan sekali lagi ketika menengok tetap tak ada apapun

Ia pun merasa parno dan canggung dan Fadli akhirnya menutup pintu depan dan langsung bergegas ke kamarnya.

Tak seperti malam kemarin, malam ini Fadli merasakan kantuk lebih awal dan benar saja ia pun dengan cepat terlelap.

Baru saja beberapa menit terlelap, tiba-tiba terdengar suara pintu depan yang terbuka.

Seketika ia bingung dan dibuat kaget dan terdengar langkah kaki yang berjalan semakin dekat sehingga membuat Fadli ketakutan

Langkah kaki pun terdengar cukup lama hingga Fadli seperti kehabisan nyali. Begitu takutnya sampai membuatnya gemetar

tok..tok..tok…krekk krekk

Seolah mengulang peristiwa sebelumnya sosok itu mengetuk pintu kamar. Gagang pintu juga terlihat bergoyang-goyang seolah berusaha untuk dibuka.

“Iya siapa ya,” sahut Fadli.

Fadli berusaha bertanya dengan gemetar sementara gagang pintu sesekali masih bergerak.

Ia bahkan tak berani pindah dari sudut kamar menggunakan selimut sampai sebatas leher. Namun tak lama kemudian

“Iman,”

Itulah jawaban dari balik pintu. Ketakutan Fadli sudah diluar batas.

“Maaf saya permisi tinggal disini,”

Pada saat itulah gagang pintu mulai berhenti bergerak. Terdengar langkah kaki hanya sesekali dan setelahnya suasana kembali sepi.

Melihat Sosok Pa Iman Duduk Di Ruang Tengah

Meski sudah tak diganggu namun ia tak bisa tidur sama sekali. Hingga akhirnya waktu menunjukkan subuh hari.

Fadli memberanikan diri untuk ngambil air wudu. Namun langkah kembali terhenti ketika ia melihat sosok Pak Iman sedang duduk di ruang tengah menghadap kedepan rumah

Kali ini Fadli berusaha untuk berani melangkah pelan melewatinya kamar mandi.

Ketika wudu Fadli terus berdoa, syukurnya ketika selesai berwudhu pak Iman sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Setelah itu Fadli pun pindah kamar, rupanya rekannya bercerita bahwa dulunya Pa Iman tinggal di kamar yang ia tempati

Meski telah pindah kamar beberapa kali Fadli masih melihat sosok Pa Iman bahkan hingga saat ini.

Itulah kisah yang ditulis oleh Beri yang dipublikasikan di salah satu media online dan diadaptasi ulang dengan cerita bergambar dalam channel YouTube Bico Story.***