Bupati Sumedang Soroti Pengelolaan Limbah SPPG, Sampah Dapur Diminta Punya Nilai Guna

Foto: Istimewa

SUMEDANG – Kebersihan dapur dan pengelolaan limbah menjadi perhatian Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanjungmekar di Dusun Depok, Desa Tanjungmekar, Kecamatan Tanjungkerta, Selasa (20/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Dony menekankan bahwa pelayanan pemenuhan gizi tidak cukup hanya berfokus pada penyediaan makanan. Kebersihan tempat pengolahan, keamanan pangan, hingga pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari standar kerja yang dijalankan setiap hari.

Peninjauan dilakukan seusai salat Subuh berjamaah. Dony bersama Sekretaris Daerah Sumedang Tuti Ruswati dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) memeriksa sejumlah fasilitas, termasuk dapur produksi, alur pengolahan makanan, serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Dari hasil peninjauan itu, ia mengingatkan pengelola agar memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan berjalan sesuai prosedur dan ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN). Ketersediaan tenaga ahli gizi, kelengkapan fasilitas dapur, serta keamanan makanan bagi penerima manfaat juga menjadi perhatian.

“Yang pertama, higienitas dan kebersihannya harus terjaga. Kedua, keamanan pangannya. Ketiga, kelengkapan dapur, ahli gizinya, serta peta alur prosesnya. Kemudian, IPAL harus berfungsi dengan baik dan tempat sampah harus dipilah,” kata Dony.

Selain memastikan makanan diolah secara higienis, Dony menyoroti pentingnya pengelolaan sampah dan limbah cair agar aktivitas SPPG tidak menimbulkan persoalan lingkungan di sekitar lokasi.

Menurutnya, IPAL harus berfungsi optimal untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang. Sementara itu, sampah yang dihasilkan dari kegiatan dapur perlu dipisahkan berdasarkan jenisnya, terutama sampah organik dan anorganik.

Ia meminta pengelola tidak memandang sampah semata-mata sebagai sisa kegiatan yang harus dibuang. Jika dipilah dan dikelola dengan benar, sebagian sampah justru berpotensi memberikan manfaat ekonomi.

Sampah organik, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak atau budidaya maggot. Adapun sampah anorganik seperti plastik dan kertas bisa disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

“Jangan sampai semua sampah berakhir di tempat pembuangan akhir. Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak atau maggot, sedangkan plastik dan kertas bisa dijual ke bank sampah. Dengan begitu, volume sampah yang dibuang bisa berkurang dan biaya pengangkutannya juga dapat ditekan,” ujarnya.

Dony juga mendorong pengelola SPPG membangun kemitraan dengan warga sekitar, termasuk peternak, pemilik kolam, dan pelaku usaha pengelolaan sampah. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang pemanfaatan sampah sekaligus mengurangi beban pengangkutan menuju tempat pembuangan akhir.

Perhatian terhadap kebersihan, lanjut Dony, tidak boleh terbatas pada ruang produksi makanan. Seluruh lingkungan SPPG harus dirawat secara berkala agar tetap bersih, tertata, dan layak digunakan.

Perawatan fasilitas, termasuk memperbaiki atau mengecat ulang bagian bangunan yang mulai mengelupas, juga perlu dilakukan. Kondisi lingkungan yang terawat dinilai mendukung penerapan standar higienitas dalam pelayanan pemenuhan gizi.

Untuk memastikan arahan tersebut diterapkan secara konsisten, Dony meminta Sekda Sumedang menyampaikan penegasan kepada seluruh pengelola SPPG. Penerapan SOP, pemeliharaan kebersihan, optimalisasi IPAL, dan pemilahan sampah harus menjadi kebiasaan dalam operasional sehari-hari.

Di sisi lain, ia mengapresiasi para mitra SPPG yang telah berupaya melengkapi fasilitas, memenuhi ketentuan operasional, dan menjaga kebersihan tempat pengolahan makanan.

Melalui pengawasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumedang mendorong agar layanan pemenuhan gizi berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan. Dengan demikian, makanan yang disajikan tidak hanya memenuhi aspek gizi dan keamanan pangan, tetapi juga didukung tata kelola fasilitas yang bersih dan bertanggung jawab.