Setahun Memimpin, Dony Ahmad Munir Paparkan PR dan Capaian Sumedang

Setahun Kepemimpinan Dony

SUMEDANG – Momentum Ramadan dimanfaatkan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir untuk melakukan refleksi terbuka atas satu tahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati. Dalam forum Rembug Sumedang yang digelar di Gedung Negara, Jumat (20/2/2026), ia memaparkan capaian sekaligus pekerjaan rumah (PR) besar yang masih dihadapi daerah.

Di hadapan Forkopimda, pimpinan DPRD, akademisi, kepala perangkat daerah, dan tokoh masyarakat, Dony menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh membuat pemerintah abai terhadap persoalan riil warga.

“Setahun ini ada kemajuan yang kita syukuri, tetapi masih banyak yang harus kita benahi. Kami sadar pelayanan belum sempurna,” ujarnya.

Kemiskinan dan Stunting Jadi Fokus

Dalam paparannya, Dony menyebut kemiskinan masih menjadi tantangan utama. Berbagai program bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi telah berjalan, namun sebagian masyarakat dinilai masih membutuhkan intervensi lebih konkret agar mampu mandiri.

Persoalan kedua yang disorot adalah stunting. Pemerintah daerah mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari penguatan layanan kesehatan, pemenuhan gizi, hingga edukasi keluarga.

Ini Baca Juga :  LCKI Jabar Siap Bersinergi Cegah Kejahatan di Sumedang

“Stunting bukan hanya urusan kesehatan, tetapi masa depan daerah. Kalau anak-anak kita sehat dan cerdas, maka Sumedang juga akan kuat,” katanya.

Ia menekankan, upaya penurunan stunting membutuhkan sinergi berkelanjutan, bukan pendekatan sektoral semata.

Pengangguran dan Infrastruktur

Pengangguran dan penciptaan lapangan kerja juga menjadi perhatian. Dony menilai investasi dan penguatan sektor produktif harus dipacu agar peluang kerja terbuka lebih luas, terutama bagi generasi muda.

Selain itu, keluhan masyarakat terkait jalan rusak masih ditemukan di sejumlah wilayah. Infrastruktur menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan mobilitas warga dan pertumbuhan ekonomi desa.

“Jalan rusak bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menyangkut ekonomi masyarakat. Petani membawa hasil panen, anak sekolah berangkat belajar, semuanya membutuhkan akses yang layak,” jelasnya.

Ia juga menyinggung pengelolaan lingkungan dan kebersihan kawasan publik. Menurutnya, kualitas lingkungan mencerminkan budaya dan tata kelola pemerintahan.

Ini Baca Juga :  Pembangunan Mesjid Al Kamil Jatigede Mencapai 70 Persen

“Kita ingin Sumedang bersih, sehat, dan nyaman. Lingkungan yang terawat adalah cerminan budaya masyarakat dan pemerintahnya,” tambahnya.

Capaian dan Kolaborasi

Di sisi lain, Dony menyampaikan sejumlah capaian selama satu tahun terakhir. Ia menyoroti penguatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, TNI–Polri, dan masyarakat.

Dukungan perguruan tinggi seperti Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Universitas Sebelas April (UNSAP) disebut berkontribusi pada penguatan tata kelola pemerintahan serta inovasi pelayanan publik.

“Kemajuan Sumedang bukan hasil kerja satu orang. Ini kerja bersama, kerja keroyokan semua pihak,” ujarnya.

Berbagai penghargaan dan pengakuan kinerja pemerintah daerah dinilai menjadi indikator awal bahwa reformasi birokrasi mulai menunjukkan hasil. Digitalisasi layanan dan peningkatan koordinasi antarperangkat daerah disebut mempercepat respons terhadap kebutuhan warga.

“Kita ingin masyarakat merasakan pelayanan yang cepat, mudah, dan transparan. Pemerintah harus hadir tanpa mempersulit,” katanya.

Sinergi dengan instansi vertikal dan Forkopimda juga disebut berperan dalam menjaga stabilitas daerah dan mendukung percepatan program strategis.

Ini Baca Juga :  Pasca Banjir Bandang, Wisatawan Diminta Jangan Takut ke Sumedang

Terbuka terhadap Kritik

Dalam forum tersebut, Dony menegaskan pemerintah daerah tidak alergi terhadap kritik masyarakat. Masukan warga, termasuk melalui media sosial, ia nilai sebagai pengingat agar birokrasi tetap waspada.

“Kritik dan saran dari masyarakat adalah energi positif bagi kami. Itu alarm supaya pemerintah tidak lengah,” tegasnya.

Ia meminta aparatur sipil negara (ASN) membangun budaya kerja terbuka dan tidak defensif terhadap evaluasi publik.

“Saya minta ASN jangan baper. Kalau dikritik, jadikan bahan introspeksi. Selama kritik itu untuk kebaikan masyarakat, kita harus menerimanya dengan lapang dada,” pungkasnya.

Refleksi setahun kepemimpinan Dony Ahmad Munir di Sumedang menunjukkan dua sisi yang berjalan beriringan: capaian yang mulai terlihat dan pekerjaan rumah yang belum selesai. Ramadan menjadi momentum evaluasi, sekaligus pengingat bahwa pembangunan daerah menuntut konsistensi, kolaborasi, dan keterbukaan terhadap kritik.