Marseille dan De Zerbi Sepakat Berpisah di Tengah Musim

Roberto De Zerbi
X FABRIZIO ROMANO

BOLA, IniSumedang.Com – Keputusan mengejutkan datang dari Prancis. Olympique Marseille secara resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Roberto De Zerbi dengan efek langsung. Perpisahan itu terjadi di tengah musim, tanpa sinyal konflik terbuka, dan disebut sebagai hasil kesepakatan bersama.

Marseille mengonfirmasi bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui pembicaraan langsung dan pertimbangan matang antara klub dan sang pelatih. Tidak ada tekanan sepihak maupun situasi darurat yang memaksa salah satu pihak mengambil langkah ekstrem. Klub menegaskan bahwa proses pemisahan berlangsung secara profesional.

Informasi tersebut diperkuat laporan jurnalis Prancis Fabrice Hawkins, yang menyebut perpisahan De Zerbi dengan Marseille berjalan tanpa gesekan internal. Menurutnya, hubungan antara pelatih asal Italia itu dengan manajemen maupun pemain tetap terjaga hingga keputusan akhir diambil.

Pernyataan serupa disampaikan pakar transfer Fabrizio Romano melalui akun X miliknya. Romano menegaskan bahwa tidak ada persoalan tersembunyi yang melatarbelakangi berakhirnya kerja sama tersebut.

Ini Baca Juga :  Perdana, Sumedang Kirim 3 Petinju Pelajar di Ajang Popwilnas Tingkat Jawa Barat

“Tidak ada permasalahan yang melibatkan De Zerbi dengan manajemen klub. Maupun, dengan para pemain,” ungkap Romano, Rabu, 11 Februari 2026, pagi.

Romano menambahkan bahwa De Zerbi memandang keputusan ini sebagai jalan terbaik bagi Marseille untuk melangkah ke depan. Evaluasi bersama menghasilkan kesimpulan bahwa perubahan di kursi pelatih dinilai lebih menguntungkan bagi arah klub, meski tidak dipicu oleh konflik atau hasil buruk secara ekstrem.

Pandangan tersebut kemudian diterima pihak Marseille. Klub menyepakati bahwa perpisahan secara baik-baik menjadi opsi paling rasional, demi menjaga stabilitas internal dan menghindari ketegangan di ruang ganti. Kesepakatan pun diambil dengan kesadaran penuh dari kedua belah pihak.

Keputusan ini menjadi sorotan karena waktu pengumumannya terbilang tidak lazim. Marseille tidak berada dalam situasi krisis terbuka, baik dari sisi performa maupun hubungan internal. Karena itu, langkah berpisah secara mendadak memunculkan berbagai spekulasi, meski klub dan sumber terpercaya menepis adanya masalah tersembunyi.

Selama menangani Marseille, De Zerbi dikenal membawa pendekatan permainan yang progresif. Filosofi penguasaan bola, tekanan tinggi, dan keberanian membangun serangan dari lini belakang menjadi ciri khasnya. Pendekatan tersebut mendapat apresiasi, meski tidak selalu berjalan mulus dalam konteks kompetisi Ligue 1 yang menuntut konsistensi tinggi.

Ini Baca Juga :  Bupati Sumedang Buka Acara Paragliding Trip Of Indonesia (Troi) seri 1

Bagi Marseille, keputusan berpisah dengan De Zerbi menandai fase evaluasi baru. Klub ibu kota Provence itu dikenal memiliki ambisi besar di level domestik maupun Eropa. Manajemen dinilai ingin memastikan bahwa arah teknis tim sejalan sepenuhnya dengan target jangka menengah dan panjang.

Hingga kini, Marseille belum mengumumkan siapa yang akan ditunjuk sebagai pengganti De Zerbi. Klub juga belum memberikan indikasi apakah akan menunjuk pelatih interim atau langsung merekrut pelatih permanen. Situasi ini membuat publik menanti langkah berikutnya dari manajemen dalam waktu dekat.

Di sisi lain, masa depan De Zerbi juga masih menjadi tanda tanya. Pelatih berusia 46 tahun tersebut memiliki reputasi kuat sebagai peracik taktik modern dan sebelumnya sempat dikaitkan dengan sejumlah klub Eropa. Keputusan berpisah secara profesional dengan Marseille dinilai tidak akan merusak nilai jualnya di pasar pelatih.

Ini Baca Juga :  Luis Enrique Tegaskan Kebahagiaannya di Paris Saint-Germain

Bagi De Zerbi, kepergian ini bisa menjadi jeda strategis sebelum menerima tantangan baru. Tanpa konflik dan dengan citra profesional yang tetap terjaga, ia berpeluang kembali ke pinggir lapangan dalam waktu yang tidak terlalu lama, baik di Prancis maupun liga lain.

Sementara itu, bagi Marseille, fokus utama kini tertuju pada kesinambungan tim. Manajemen dihadapkan pada tugas menjaga stabilitas performa sambil menentukan sosok pelatih yang tepat untuk melanjutkan proyek klub. Keputusan tersebut akan sangat menentukan arah Marseille hingga akhir musim.

Perpisahan De Zerbi dan Marseille menjadi pengingat bahwa dinamika sepak bola modern tidak selalu dipicu oleh konflik atau kegagalan. Dalam kasus ini, perubahan justru lahir dari kesepahaman bersama, dengan tujuan menjaga kepentingan klub dan profesionalisme semua pihak yang terlibat