IniSumedang.Com – Jelang duel Benfica vs Real Madrid di babak playoff Liga Champions 2025/2026, Jose Mourinho melontarkan pujian yang sekaligus menjadi peringatan bagi timnya. Pelatih Benfica itu menyebut Real Madrid sebagai raja kompetisi Eropa, namun menegaskan laga tetap terbuka bagi siapa pun.
Pertandingan leg pertama akan digelar di Estádio da Luz, Lisboa, Rabu (18/2/2026) dini hari pukul 03.00 WIB. Atmosfer kandang Benfica diprediksi menjadi faktor penting dalam menghadapi klub tersukses dalam sejarah Liga Champions.
Dalam konferensi pers, Mourinho mengisahkan momen selepas salah satu laga melawan Los Blancos. Ia menerima jersey pemain Real Madrid dan menjadikannya bahan candaan bersama staf pelatihnya.
“Ketika seorang pemain Real Madrid memberikan saya jerseynya setelah pertandingan, saya sempat menunjukkan kepada staf simbol di sana.”
“Itu, 15 trofi Liga Champions,” ujar Mourinho dikutip IniSumedang.Com dari akun X pakar transfer Fabrizio Romano, Senin, 16 Febuari 2026.
Real Madrid dan Status Raja Eropa
Bagi Mourinho, jumlah trofi tersebut bukan sekadar angka. Ia menilai capaian itu sebagai legitimasi dominasi Real Madrid di kompetisi elite antarklub Eropa.
“Real Madrid adalah rajanya. Ini, bukan sekadar sejarah. Kami akan menghadapi favorit juara di kompetisi ini,” tegas pelatih asal Portugal tersebut.
Pernyataan itu menegaskan posisi Real Madrid sebagai tolok ukur di Liga Champions. Klub asal Spanyol tersebut kerap menunjukkan mental juara di fase gugur, bahkan saat menghadapi tekanan besar.
Mourinho memahami reputasi tersebut. Ia pernah melatih Madrid dan merasakan tuntutan tinggi di Santiago Bernabéu. Pengalaman itu membuatnya realistis dalam menilai kekuatan lawan, tanpa mengurangi ambisi Benfica.
Benfica Tak Datang Tanpa Keyakinan
Meski mengakui status Real Madrid sebagai raja Eropa, Mourinho menolak menempatkan Benfica sebagai tim pelengkap. Ia menyebut timnya memiliki modal kepercayaan diri, termasuk dari hasil pertemuan sebelumnya.
“Kita tahu apa yang sudah kita lakukan terhadap raja Liga Champions. Mereka sedang terluka,” katanya.
Ucapan itu mengisyaratkan bahwa Benfica pernah memberi perlawanan berarti. Kondisi mental Real Madrid, menurut Mourinho, juga menjadi faktor yang patut diperhatikan.
Namun ia segera menambahkan peringatan. Situasi tim besar yang sedang dalam tekanan justru bisa memunculkan respons berbahaya.
“Dan raja yang terluka itu berbahaya,” tambahnya.
Duel Sarat Taktik dan Mental
Laga Benfica vs Real Madrid diprediksi berlangsung sengit. Benfica akan mengandalkan dukungan publik Estádio da Luz untuk mencuri keunggulan di leg pertama. Sementara Real Madrid membawa pengalaman panjang serta reputasi sebagai spesialis Liga Champions.
Mourinho dikenal piawai membaca pertandingan besar. Ia kerap menekankan disiplin taktik dan efisiensi dalam memanfaatkan peluang. Menghadapi Real Madrid, pendekatan itu kemungkinan kembali menjadi kunci.
Di sisi lain, Madrid memiliki kedalaman skuad dan pengalaman menghadapi tekanan di fase gugur. Status sebagai favorit juara membuat mereka tetap difavoritkan, meski bermain tandang pada leg pertama.
Pernyataan Mourinho mencerminkan keseimbangan antara respek dan ambisi. Ia tidak menutup mata terhadap sejarah dan dominasi Real Madrid di Liga Champions. Namun ia juga menegaskan bahwa Benfica memiliki kapasitas untuk bersaing.
Pertemuan ini menjadi ujian bagi kedua tim. Benfica ingin membuktikan diri mampu menantang raja Eropa. Real Madrid berupaya mempertahankan reputasi sebagai penguasa kompetisi.
Di panggung Liga Champions, sejarah memang berbicara lantang. Namun hasil akhir selalu ditentukan di lapangan. Mourinho sudah menyampaikan pesannya: Real Madrid adalah raja, tetapi setiap raja tetap bisa ditantang. Benfica akan mencoba menjawab tantangan itu pada leg pertama playoff Liga Champions musim ini.






