INISUMEDANG.COM – Komentar pedas datang dari mantan Presiden Inter Milan, Massimo Moratti, seusai laga panas Inter kontra Juventus. Pertandingan matchday ke-25 Serie A 2025/2026 itu berakhir 3-2 untuk Nerazzurri, namun sorotan utama justru tertuju pada insiden Bastoni-Kalulu.
Insiden Bastoni-Kalulu terjadi ketika bek Juventus, Pierre Kalulu, menerima kartu kuning kedua yang berujung kartu merah. Wasit menilai Kalulu mengganggu pergerakan Alessandro Bastoni yang tengah melakukan transisi cepat usai merebut bola. Keputusan itu memicu protes keras dari kubu Juventus.
Moratti: “Zaman Sudah Berubah”
Dalam wawancara bersama Radio Rai, Moratti menanggapi reaksi Juventus yang dinilainya berlebihan.
“Zaman sudah berubah. Sekarang, Juventus yang mengeluh dan merasa menjadi korban,” ungkap Moratti dikutip ruber.id dari akun X jurnalis Italia, Daniele Mari, Senin (16/2/2026).
Moratti menyebut sikap tersebut tidak sejalan dengan sejarah panjang Juventus dalam sepak bola Italia. Ia menilai dinamika kontroversi dan keputusan wasit selalu menjadi bagian dari pertandingan besar.
Menurutnya, respons Juventus pasca laga memperlihatkan perubahan posisi dalam narasi klasik rivalitas Italia. Jika pada era sebelumnya Juventus kerap berada dalam posisi dominan, kini klub itu justru tampil sebagai pihak yang merasa dirugikan.
Protes Dinilai Berlebihan
Moratti menilai protes yang dilayangkan Juventus terhadap insiden Bastoni-Kalulu terlalu jauh.
“Memang ada kejadian baru, tetapi menurut saya mereka terlalu berlebihan dalam protesnya. Seolah-olah, menjadi korban besar dalam sepak bola Italia. Sejarah tidak mencatatnya seperti itu,” ucap Moratti.
Pernyataan itu menegaskan pandangannya bahwa kontroversi wasit bukan hal baru dalam duel Inter kontra Juventus. Rivalitas keduanya memang kerap diwarnai ketegangan, baik di dalam maupun luar lapangan.
Keputusan wasit dalam laga tersebut memicu perdebatan luas di kalangan pengamat. Sebagian menilai kartu kuning kedua untuk Kalulu terlalu keras. Namun ada pula yang menilai pelanggaran terhadap Bastoni memang menghambat peluang serangan cepat Inter.
Momentum Berubah di Lapangan
Setelah kartu merah untuk Kalulu, Juventus harus bermain dengan sepuluh pemain. Inter memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk meningkatkan tekanan. Gol tambahan lahir dalam situasi penuh tensi hingga memastikan kemenangan 3-2 bagi tuan rumah.
Secara taktis, situasi itu mengubah ritme pertandingan. Inter tampil lebih agresif, sementara Juventus berusaha menutup ruang dan mengandalkan serangan balik. Namun tekanan beruntun membuat pertahanan Juventus kesulitan menjaga konsistensi.
Insiden Bastoni-Kalulu pun menjadi titik balik. Dalam laga sebesar Inter vs Juventus, keputusan wasit sekecil apa pun dapat menggeser momentum. Kali ini, keputusan tersebut berpihak pada Inter.
Deja Vu Rivalitas Klasik
Moratti mengaku situasi ini mengingatkannya pada episode-episode lama dalam rivalitas dua raksasa Italia tersebut. Ia menyebut dinamika panas seperti ini wajar dalam pertandingan besar, meski selalu memantik polemik.
Rivalitas Inter dan Juventus telah melampaui sekadar persaingan tiga poin. Ia menyentuh dimensi historis, emosional, hingga politis dalam sepak bola Italia. Karena itu, setiap insiden seperti Bastoni-Kalulu mudah membesar di ruang publik.
Kemenangan Inter 3-2 mempertegas persaingan papan atas Serie A musim ini. Namun narasi pascalaga lebih banyak membahas kartu merah Kalulu dan respons Juventus dibandingkan kualitas permainan kedua tim.
Insiden Bastoni-Kalulu kembali menunjukkan bahwa dalam pertandingan besar, keputusan wasit sering menjadi pusat perhatian. Moratti memilih menyikapinya sebagai bagian dari dinamika sepak bola. Juventus, di sisi lain, menilai ada ketidakadilan yang perlu disorot.
Perdebatan mungkin akan terus bergulir. Namun di papan klasemen, hasil akhir tetap tercatat: Inter meraih tiga poin, sementara kontroversi menjadi bab terbaru dalam rivalitas klasik Italia.






